Demikian disampaikan oleh Direktur Utama PLN Dahlan Iskan ketika ditemui di sela rapat kerja di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (6/1/2011).
"Pembunuhan berencana ini dilakukan demi melaksanakan penghematan konsumsi BBM di pembangkit tenaga listrik," kata Dahlan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dahlan menjelaskan tahun lalu konsumsi BBM untuk pembangkit listrik mencapai 9,1 juta kiloliter (KL). "Nanti saya bisa dikenakan pasal 340 KUHP kalau merencanakan pembunuhan ini," candanya.
"Pembangkit listrik yang memasok kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta dan Semarang dulu kan menggunakan pembangkit listrik BBM. Nah, dengan dioperasikannya PLTU Suralaya dan PLTU Paiton, jadinya konsumsi listrik di dua kota tersebut akan dialihkan nanti," ujar Dahlan menjelaskan maksud 'pembunuhan' tersebut.
Untuk Jakarta, lanjutnya, PLN sudah melaksanakan pemasangan IBT (trafo) di tujuh lokasi sekitar Jakarta. Selain itu, selain diambil dari PLTU Suralaya, kebutuhan listrik Jakarta juga dipasok dari PLTU Lontar yang memiliki kapasitas 3x300 MW.
Dahlan melanjutkan lagi, PLN berencana akan membangun GITET dan memasang IBT (trafo) di Ungaran dengan maksud merubah tegangan listrik yang berasal dari PLTU yang tadinya 500 KV menjadi 150 KV.
"Dari GITET di Ungaran itu, nanti kota Semarang akan mendapatkan pasokan sekitar 400 MW. Sedangkan dari PLTU Rembang, akan mendapatkan lagi tambahan pasokan listrik hingga 600 MW," tutur Dahlan.
"Kalau untuk pembangkit listrik Tambak Lorok yang punya pasokan 1.000 MW dan menggunakan BBM akan kita matikan seluruhnya pada pertengahan 2011. Pembangkit listrik itu nanti bisa dijadikan cadangan jika ada gangguan," tambahnya.
(nrs/dnl)











































