Kepala BP Migas R. Priyono mengatakan kerjasama dilakukan sehingga kegiatan operasi perminyakan di Indonesia bisa berjalan dengan aman.
"Kami ingin kedaulatan energi berdampingan dengan kedaulatan teritorial," kata Priyono dalam siaran pers, Kamis (6/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Priyono mengatakan, kesepakatan ini akan meningkatkan keamanan di daerah operasi migas di seluruh Indonesia. Apalagi mengingat, wilayah operasi perminyakan yang mayoritas terletak di daerah terpencil, bahkan wilayah perbatasan.
"Misalnya saja, Lapangan Abadi (blok Masela) yang dikembangkan Inpex di Maluku Tenggara Barat yang berbatasan dengan Australia. Beberapa daerah migas di Kalimantan Timur juga berbatasan langsung dengan Malaysia. Yang penting, keamanan pelaksanaan kegiatan hulu migas terjamin," jelas Priyono.
Selain dengan Kementerian Pertahanan, BP Migas memiliki nota kesepahaman dengan TNI Angkatan Laut tentang pengamanan dan pengawasan fasilitas industri hulu migas di lepas pantai.
Alasannya, gangguan keamanan seperti pencurian peralatan operasi maupun pelanggaran batas pengambilan ikan oleh nelayan asing maupun tradisional, dapat menghambat kegiatan operasi.
Saat ini, terdapat 24 kontraktor kontrak kerja sama offshore yang sudah produksi, tersebar mulai dari perairan Aceh sampai dengan Papua. Tingkat kerawanan akan semakin meningkat untuk kontraktor yang wilayah kerjanya berada di perbatasan laut dengan negara lain.
Dengan kerja sama tersebut, TNI Angkatan Laut akan mendukung BP Migas untuk menghindari terjadinya teror ataupun sabotase terhadap fasilitas migas di lepas pantai. TNI AL juga akan membantu pemetaan fasilitas industri hulu migas, mengamankan kegiatan survei, serta menetralisasi ranjau pada wilayah kerja migas di laut lepas.
(dnl/qom)











































