Vice President Corporate Communication Mochamad Harun mengatakan, kenaikan tersebut dilakukan karena selama ini harga jual BBG Pertamina masih berada di bawah harga pasar.
Hal tersebut menurut Harun, bisa terlihat dari pemain lain yang menjual bahan bakar gas dengan harga jauh lebih tinggi. Padahal, sebagai bahan bakar yang tidak disubsidi, BBG sudah selayaknya dijual sesuai harga keekonomiannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu, Pertamina tidak bisa melakukan investasi yang besar untuk merevitalisasi SPBG kami. Padahal kami juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen," ujar Harun dalam siaran persnya, Senin (10/1/2011).
Sebagai kompensasi dari kenaikan harga ini, Pertamina berjanji akan meningkatkan pelayanan, terutama revitalisasi SPBG-SPBG Pertamina. Revitalisasi ini penting mengingat salah satu pengguna BBG yang terbesar adalah kendaraan TransJakarta yang berukuran besar sehingga dibutuhkan desain dan luas SPBG yang memadai.
"Saat ini ada 6 SPBG Pertamina yang beroperasi, dan rencananya kita akan revitalisasi 8 SPBG. Dengan revitalisasi tersebut, diharapkan Pertamina bisa melayani konsumen di lebih banyak titik dengan pelayanan yang lebih memuaskan," imbuh Harun.
Dengan pelayanan yang lebih baik, tambah Harun, kehadiran BBG juga bisa menjadi bahan bakar alternatif bagi masyarakat selain bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini membuat masyarakat memiliki pilihan dalam memenuhi kebutuhan bahan bakarnya, sehingga tidak terpaku pada BBM.
Selain BBG, Pertamina juga menyediakan produk bahan bakar gas lainnya yang merupakan produk turunan dari LPG, yaitu Liquefied Gas for Vehicle (LGV) dengan merek Vi-Gas. Vi-Gas sangat cocok digunakan untuk kendaraan kecil baik kendaraan umum ataupun pribadi. Hasil penelitian juga membuktikan penggunaan Vi-Gas lebih hemat dari penggunaan BBM. Saat ini Vi-Gas dijual di delapan SPBU COCO Pertamina dengan harga Rp 3.600 per LSP. (qom/dnl)











































