Demikian disampaikan oleh Direktur Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (13/1/2011).
"Jadi PLN akan semakin repot membeli batubaranya karena semakin mahal, harga listriknya belum ada tanda-tanda diizinkan naik. Subsidi pun akan terpengaruh. Ini (kenaikan harga batubara) jelas mempengaruhi di listrik," terangnya Supriatna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut lagi, Supriatna menjelaskan permintaan batubara juga tengah meningkat. Menurutnya, harga batubara kemungkinan akan tembus US$ 120-130 karena masih adanya musim dingin.
"Jadi solusinya itu, menurut saya rakyat mungkin bayar listrik lebih mahal. Kan solusinya begitu, harga cabai naik ya jangan makan cabai. Kalau listrik naik, anda kerja siang hari saja. Memang tak ada solusinya dalam jangka pendek. Kalau jangka panjang orang boleh mau ke nuklir dan alternatif energi, ke gas dan geothermal boleh," ujar Supriatna.
"Di seluruh dunia orang mengandalkan batubara, karena yang paling murah kan batubara. Nuklir itu juga murah, tapi modal bikinnya kan mahal," imbuhnya.
Supriatna menambahkan, jika lonjakan harga batubara terus terjadi, maka dapat mempengaruhi perekonomian, industri tidak kompetitif lagi, industri jadi repot atau defisit.
"Terutama untuk PLN jadi rugi. Kedua, pemerintah harus memikul beban subsidi yang semakin besar. Masyarakat pun juga akan terbebani," tambah Supriatna.
Terkait naiknya harga batubara juga sempat dicemaskan oleh Dirut PLN, Dahlan Iskan. Ia mengatakan bahwa hal yang membahayakan bagi perusahaan BUMN listrik tersebut adalah gejolaknya harga batubara.
(nrs/dnl)











































