Sekjen OPEC, Abdullah al-Badri mengaku pihaknya memonitor harga minyak dengan sangat cermat.
"OPEC akan melakukan intervensi untuk menstabilisasi pasar jika pasar tidak berumbang. OPEC tidak akan mengintervensi karena ulah spekulan," ujar al-Badri kepada harian Austria, Wirtschaftsblatt seperti dikutip dari Reuters, Minggu (16/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini terus melonjak, bahkan minyak Brent sudah semakin dekat ke US$ 100 per barel. Pada perdagangan Jumat (14/1/2011), minyak light sweet pengiriman Februari naik 14 sen ke level US$ 91,54 per barel.
"Minyak light menembus titik terendah baru pada US$ 90,10 pare barel kemudian mengalami reli. Jika Brent menembus US$ 100, maka kita akan mencoba membuat titik tertinggi baru," ujar Rich Ilczyszyn dari Lind-Waldock seperti dikutip dari AFP.
Minyak Brent pengiriman Februari sempat menembus US$ 99,20 per barel dalam pergerakan yang bergejolak dan tipis. Ini adalah level harga tertinggi sejak 1 Oktober 2008. Namun harga akhirnya ditutup naik 62 sen menjadi US$ 98,68 per barel.
"Minyak Brent di London menyentuh titik tertingginya di atas US$ 99 karena menjelang berakhirnya kontrak Februari pada Jumat. Ini karena hari terakhir kontrak Februari dan pasar bergerak ke Maret," ujar Andrey Kryuchenkov, analis dari VTB Capital.
(qom/qom)











































