"Perekonomian dunia sedang menjalani pemulihan. Akan lebih baik jika harga-harga tidak naik terlalu tinggi dan terlalu cepat," ujar chief executive Total, Christophe de Margerie seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/1/2011).
"Pasar sedang bullish karena ada peningkatan permintaan di emerging markets... dan itu (permintaan) lebih tinggi dari ekspetasi," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Minyak light menembus titik terendah baru pada US$ 90,10 pare barel kemudian mengalami reli. Jika Brent menembus US$ 100, maka kita akan mencoba membuat titik tertinggi baru," ujar Rich Ilczyszyn dari Lind-Waldock seperti dikutip dari AFP.
Minyak Brent pengiriman Februari sempat menembus US$ 99,20 per barel dalam pergerakan yang bergejolak dan tipis. Ini adalah level harga tertinggi sejak 1 Oktober 2008. Namun harga akhirnya ditutup naik 62 sen menjadi US$ 98,68 per barel.
Polling dari Reuters menunjukkan, harga minyak diprediksi tembus US$ 100 per barel pada kuartal I-2010. Namun harga minyak diyakini tidak akan menembus US$ 147 per barel seperti yang pernah tercipta pada tahun 2008 silam.
Saat ditanya apakah OPEC perlu menaikkan produksi guna meredam harga, de Margerie mengaku hal itu tidak akan banyak membantu.
"Ini sulit karena tidak ada kekurangan minyak. HariΒ ini lebih banyak ditentukan oleh pasar. Terlalu tinggi harga minyak tidak akan diterima oleh konsumen," tambahnya.
OPEC sebelumnya telah menegaskan, pihaknya tidak akan bereaksi jika lonjakan harga minyak terjadi karena ulah spekulan di pasar. OPEC baru bereaksi jika lonjakan harga minyak terjadi karena memang kekurangan pasokan.
Menteri Perminyakan Iran Massoud Mirkazemi juga mengatakan, negara-negara OPEC sejauh ini belum meminta diadakan pertemuan darurat guna mendiskusikan masalah lonjakan harga ini. Mirkazemi menilai US$ 100 merupakan harga sesungguhnya dan bukan hal yang dikhawatirkan pada produsen.
(qom/qom)











































