Pemerintah Pilih Premium Dibatasi Ketimbang Harganya Dinaikkan

Pemerintah Pilih Premium Dibatasi Ketimbang Harganya Dinaikkan

- detikFinance
Senin, 17 Jan 2011 12:07 WIB
Pemerintah Pilih Premium Dibatasi Ketimbang Harganya Dinaikkan
Jakarta - Harga minyak dunia terus naik mendekati level US$ 100 per barel. Besaran subsidi yang dikeluarkan pemerintah bakal bengkak, namun pemerintah tidak mau menaikkan harga premium dan lebih memilih membatasi konsumsinya mulai April 2011.

Hal ini disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (17/1/2011).

"Saya sampaikan beberapa kali bahwa menaikkan premium langsung memberikan dampak untuk subdisi. Lihat dari sisi keadilan. Masyarakat yang sudah mampu kan tidak usah diberikan subsidi," tegasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hatta mengatakan, pemerintah sampai saat ini belum berencana mempercepat kebijakan pembatasan premium yang dijadwalkan mulai dilaksanakan pada April 2011.

Karena, keputusan untuk tetap bertahan dengan keputusan tersebut dikarenakan pemerintah terikat dengan perjanjian dengan Komisi VII DPR yang akan membahas terlebih dahulu dampak kebijakan pembatasan premium bersubsidi tersebut. Apalagi harga pertamax cs terus naik, hingga pertengahan Januari 2011 dan sudah mencapai Rp 7.800 per liter.

"Tetap akan dilaksanakan kuartal I, atau April. Bersama dewan ini akan kami bahas dulu," ujar Hatta.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh menyatakan pemerintah sampai saat ini belum terpikir untuk mempercepat jadwal pembatasan premium bersubsidi. Walaupun dirinya mengetahui bahwa kenaikan harga pertamax mulai berlangsung pada awal tahun ini.

Menurut Darwin, pemerintah saat ini masih merumuskan tindak lanjut hasil pertemuan Rapat Kerja (Raker) ESDM dengan Komisi VII DPR. Tindak lanjut pembahasan itu antara lain membahas mengenai aspek operasional dan pengawasan dari pelaksanaan kebijakan pembatasan BBM subsidi.

"Sebetulnya kebijakan ini terpulang kepada aspek pengawasan, BBM bersubsidi itu untuk golongan masyarakat tidak mampu," ujarnya.

Darwin menegaskan masyarakat golongan mampu seharusnya malu jika sampai saat ini masih menggunakan premium berubsidi yang pembiayaannya menggunakan dana dari masyarakat.

"BBM bersubsidi itu kan untuk golongan tidak mampu. Ya golongan mampu kan malu kalau pakai BBM bersubsidi," tandasnya.
(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads