Demikian disampaikan oleh Dirjen Migas, Evita Herawati Legowo, ketika ditanya terkait masalah mengenai gas oleh Komisi VII DPR RI pada rapat kerja yang diselenggarakan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (19/1/2011).
"Untuk harga pertamax, memang itu sepenuhnya diserahkan kepada Pertamina. Pertamax juga selalu mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Namun sebenarnya, jika harga pertamax masih tinggi masyarakat dapat beralih untuk memakai gas, yaitu LGV (Liquified Gas Vehicle). Ini merupakan opsi alternatif," ujar Evita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk Jabodetabek, kita sudah bisa pakai LGV. Itu semacam bahan bakar gas untuk kendaraan bermotor, harganya lebih murah dari Premium, dan keberadaannya sudah ada dimiliki oleh beberapa perusahaan. Bahkan harganya lebih murah daripada premium. Maka itu selain ke pertamax, nanti bisa pakai LGV," ujar Evita.
"Sebetulnya kita ingin dorong untuk beli LGV. Pokoknya sudah ada 19 SPBU yang punya LGV sekarang ini. Namun untuk converter kit-nya harus beli sendiri, Rp 10 juta sekali beli," katanya.
Evita sendiri tetapi masih mengakui bahwa sosialisasi terhadap LGV ini masih kurang. Dikatakan olehnya bahwa sosialisasinya perlu lebih ditingkatkan lagi bersama dengan Pertamina.
"Sosialisasinya memang masih kurang untuk itu (LGV)," tambahnya.
"Pokoknya sekarang sudah ada dan sudah bisa untuk beli LGV, ini lebih murah, dan lebih bersih," terangnya.
Seperti diketahui, ketika ditanya mengenai permasalahan gas, Evita mengatakan bahwa sampai saat ini pemerintah masih terus mengusahakan untuk pemanfaatan gas. Baik itu untuk sektor transportasi, industri, dan juga rumah tangga.
"Untuk gas, kami sampai saat ini masih terus mencoba perbaiki diri dengan mengeluarkan Permen No.19/2010," ujar Evita.
Evita mengatakan, pada Permen 19/2010 tersebut merinci mengenai pemakaian gas untuk transportasi, industri, dan rumah tangga. Diharapkan nantinya pemanfaatan gas dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi pemakaian BBM.
(nrs/dnl)











































