Timteng Krisis, RI Masih Pede Patok Harga Minyak di US$ 80

Timteng Krisis, RI Masih Pede Patok Harga Minyak di US$ 80

- detikFinance
Selasa, 22 Feb 2011 11:46 WIB
Bogor - Pemerintah masih yakin untuk mematok harga minyak di level US$ 80 per barel untuk perhitungan APBN 2011, meskipun saat ini tengah terjadi krisis politik di Timur Tengah yang mengerek kenaikan harga minyak.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pemerintah meyakini kenaikan harga minyak dunia yang hingga menembus level US$ 100 per barel hanya bersifat sementara saja.

"Kita masih belum akan merevisi harga minyak di APBN, karena ini bersifat temporary. Kita lihat kemarin kan kalau (krisis) Mesir sampai US$ 100 per barel, tapi turun lagi," kata Agus ketika ditemui di Istana Bogor, Selasa (22/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun saat ini kondisi politik di Timur Tengah kembali bergejolak khususnya di Libya, Agus menyatakan kenaikan harga minyak juga bakal sementara saja. Sehingga pemerintah tak perlu panik untuk segera mengubah asumsi harga minyak di APBN.

"Timteng gonjang ganjing lagi, Libya dan merambat ke beberapa negara Timteng, rata-rata penghasil minyak. Karena faktor politik di Timteng (minyak naik), kalau sudah reda akan turun dan kita akan pantau terus," kata Agus.

Seperti diketahui, saat ini pada perdagangan di pasar Asia, minyak Brent untuk pengiriman April naik lagi US$ 1,21 menjadi US$ 106,95 per barel. Minyak light sweet pengiriman Maret melonjak US$ 6,45 menjadi US$ 92,65 per barel.
(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads