"Kita sambut baik, pengusaha SPBU diberi waktu lagi, memang kalau 1 April (2011), Dirjen Migas kelihatannya pun belum siap," kata Ketua Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi kepada detikFinance, Kamis (24/2/2011)
Ia menegaskan penundaan itu adalah murni dari pertimbangan pemerintah bukan desakan dari para pengusaha SPBU. Ia memperkirakan itu sangat terkait dengan hasil kajian Anggito Abimanyu sebagai Ketua Tim Akademis Kajian Pembatasan BBM Bersubsidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini kata dia, posisi pengusaha masih menunggu kepastian dari pemerintah khususnya menteri ESDM. Meskipun soal penundaan ini ia sudah memperkirakan sebelumnya karena pada awalnya kebijakan ini sudah ada sinyal untuk tak dipaksakan.
"Kita akan bicara lagi, kita diundang rapat oleh Pertamina dan BP Migas besok sore," katanya
Ia mengatakan bagi pengusaha SPBU pembatasan BBM premium tak menjadi masalah. Bagi pengusaha yang terpenting adalah kepastian dan tataran implememtasi harus dilakukan persiapan yang cukup.
Mengenai anggotanya yang sudah melakukan investasi untuk menyiapkan infrastruktur seperti tangki, justru hal ini menjadi keuntungan Pertamina.Pasalnya, dengan adanya penambahan infrastruktur itu, SPBU yang sebelumnya tak menjual Pertamax menjadi menjual Pertamax.
"Misalnya di Jabodetabek sebanyak 790 SPBU sekarang sudah 85% jual Pertamax, ini sudah ada peningkatan 10% sejak Desember 2010, dulu hanya 75%," katanya. (hen/dnl)











































