Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro ikut angkat bicara soal adanya spekulasi melonjaknya harga minyak sebagai imbas krisis Timur Tengah. Menurutnya harga minyak tidak mungkin tembus diangka US$ 200 per barel seperti yang banyak orang perkirakan saat ini.
"Orang itu terlalu mendramatisir mana mungkin harga minyak sampai US$ 200. Awal tahun 1990 harga minyak nggak pernah setinggi ini karena dulu nggak ada Rusia," kata Dorodjatun di acara Seminar Investasi di Hotel Borobudur, Kamis (24/2/2011).
Pria kelahiran Rangkasbitung, 25 November 1939 itu menambahkan jika harga minyak dibiarkan naik terlalu cepat maka negara-negara penghasil minyak (OPEC) dan non OPECΒ akan merugi. Ia berharap konflik dan ketidakstabilan di Timur Tengah bisa mereda dalam waktu 3-4 bulan ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengatakan, dampak krisis harga minyak saat ini justru mengerikan jika merembet ke harga komoditas pangan. Bahan baku pangan (pertanian) yang mengandung etanol dan methanol bisa diubah menjadi biofuel dalam rangka siap-siap mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia.
"Itu bisa menyebabkan harga food akan naik," ucapnya.
Seperti diketahui, harga minyak terus melonjak karena kekhawatiran gangguan suplai di Libya, yang kini merupakan produsen minyak terbesar keempat di Afrika Utara. Konflik di Libya diketahui semakin memanas karena pemerintah terus menumpas para demonstran yang meminta Khadaffi turun.
Harga minyak jenis light sweet sempat melonjak hingga 5% menembus US$ 100 per barel, sebelum akhirnya ditutup naik 2,68 dolar menjadi US$ 98,10 per barel. Minyak Brent ditutup naik 4,47 dolar ke level US$ 111,25. (hen/ang)











































