maksimal, maka akan terjadi penghematan anggaran sebesar Rp 60 triliun.
Saat ini kebutuhan pasokan gas di perusahaan listrik tersebut mencapai angka 1800 juta kaki kubik perharinya (MMSCFD). Namun, alokasi
yang diberikan kepada PLN baru mencapai 800 juta kaki kubik perhari atau setara dengan 293 TBTU (Tera British Termal Unit).
Jika dihitung dari keseluruhan pembangkit yang dimiliki PLN, sebanyak 5223 unit, maka dari pembangkit yang ada hanya 22% yang menggunakan gas.
Direktur Energi Primer PLN Nur Pamudji memperkirakan bahwa ketika harga minyak dunia berada pada angka US$ 70 barel maka harga solar saat itu sebesar US$ 17 per juta kaki kubik. Sedangkan untuk harga gas hanya sebesar US$ 5 per juta kaki kubik maka selisihnya adalah US$ 12.
“Itu merupakan hitungan gambaran angka penghematannya. Kalau sekarang harga minyak sedang tinggi, maka penghematannya bisa lebih,” katanya.
Dikatakannya jika persediaan gas tercukupi maka penghematan yang dapat dicapai oleh PLN bisa mencapai Rp 60 triliun setahun.
“Permasalahan yang sekarang kan gasnya tidak ada. Jadi kita masih kurag sekitar 1000 MMSCFD. Sulit untuk mendapatkan pasokan gas sampai saat ini, masih ada juga yang di masalah FSRU (Floating Storage Refinery Unit), dan juga di beberapa lapangan gas-gas kecil lainnya,” tambahnya.
Menurutnya PLN terus berusaha untuk menambah pasokan gas. Misalnya, PLN sedang lakukan negosiasi harga untuk pembelian
listrik yang dihasilkan dari proses dewaterring gas CBM oleh Epindo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nur Pamudji juga mengatakan, bahwa pada April 2011 nanti PLN akan memperoleh tambahan pasokan gas sebesar 65 juta kaki kubik per hari dari Lapangan Jambi
Merang di perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi. Rencananya pasokan tersebut akan didistribusikan ke pembangkit di pulau Jawa melalui pipa South Sumatera
West Java (SSWJ) yang dikelola PT PGN.
“Untuk pembayaran sesuai dengan kontrak, tapi fisik gasnya ditukar, karena pipa yang ke Merak sedang dibangun. Sekarang sih pakai ‘swap’, 65 juta kaki kubik per hari itu merupakan gas di Jambi Merang mengalir ke Jawa sambil menunggu selesainya pembangkit yang di Sumatera. Itu perlu waktu, jadi selama gas turbin dalam proses pemindahan, gas dari Merang mengalir ke Jawa,” jelasnya.
(nrs/hen)











































