Harga Minyak RI Tembus US$ 111, Pemerintah Masih Tenang

Harga Minyak RI Tembus US$ 111, Pemerintah Masih Tenang

Akhmad Nurismarsyah - detikFinance
Senin, 28 Feb 2011 12:15 WIB
Jakarta -

Pemerintah mengaku tak gugup menghadapi harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yang saat ini menyentuh US$ 111,36 per barel. Karena rata-rata dalam setahun ini masih US$ 83 per barel.

Hal ini disampaikan oleh Menteri ESDM Darwin Saleh ketika ditemui di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (28/2/2011).

"Dari pengamatan kami terakhir kecenderungan harga ICP itu sudah mencapai US$ 111,36 per barel, Brent US$ 112/barel. Namun rata-rata ICP 12 bulan dari Maret 2010 sampai Februari 2011 masih di sekitar US$ 83 per barel. Artinya kita tidak bisa terlalu gugup," tutur Darwin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal dengan rata-rata ICP US$ 83 per barel, berarti ini telah menembus level asumsi pada perhitungan APBN 2011 yang sebesar US$ 80 per barel.

Dikatakan Darwin, saat ini pemerintah terus mengamati dengan sistematis perkembangan harga minyak khususnya akibat situasi politik di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah.

"Yang penting sekarang adalah proaktif dan sistematis. Memang telah mencapai US$ 112/barel tetapi kecenderungan rata-ratanya masih di sekitar US$ 83/barel," jelas Darwin.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa memutuskan untuk melakukan langkah strategis hanya dengan melihat kenaikan harga minyak dalam sesaat. Di 2009 harga minyak dunia pernah menyentuh US$ 140 per barel, namun rata-rata ICP masih di sekitar US$ 115 per barel.

Dalam kesempatan tersebut Darwin mengatakan, kenaikan harga minyak dunia saat ini juga terjadi karena faktor tingginya permintaan minyak yang mencapai 88 juta barel per hari dan tidak bisa dipenuhi karena terbatasnya suplai produksi.

Namun, Darwin mengaku lega karena Arab Saudi telah manambah pasokan minyaknya untuk mengganti kosongnya pasokan dari Libya.

"Jadi saya kira, Pemerintah-pemerintah di dunia, negara produsen besar seperti Arab Saudi tidak berdiam diri," jelas Darwin.

Pemerintah berjanji untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri dengan menggarap lapangan-lapangan migas yang selama ini kurang tergarap. Perusahaan-perusahaan miyak skala kecil akan diminta menggarap lapangan tersebut.

(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads