"Terus terang kami sekarang terus berusaha untuk sebaik-baiknya. Sementara ini belum ada untuk berusaha menaiki produksi, targetnya bisa kena saja sudah bisa syukur," kataΒ Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Evita Legowo ketika ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta (2/3/2011).
Evita mengatakan ada beberapa hal kendala yang masih harus dihadapi dalam meningkatkan produksi minyak nasional
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakannya beberapa blok, misalnya blok Cepu yang disinyalir dapat memberi sumbangan produksi minyak, juga masih belum optimal.
"Blok Cepu belum bisa lah, itu kan sekarang masih 20 ribu barel per hari. Itu juga terkadang masih belum capai 20 ribu karena off-taker-nya masih belum mampu. Segenjot-genjotnya, mungkin bisa capai 22 ribu," ucapnya.
Evita sempat mengatakan, bahwa produksi minyak di blok Cepu akan bisa mencapai 165.000 barel per hari pada akhir tahun 2013, jika blok tersebut sudah mencapai skala penuh.
"Kita juga sempat khawatir terkait adanya masalah kejelasan azas cabotage ini. Karena dari situ bisa memicu kehilangan produksi minyak hingga 159.000 per hari," tambahnya.
Disamping itu, lanjut Evita, masih ada kendala seperti produksi Chevron yang terhambat masalah perizinan walaupun sudah ada beberapa lapangan yang sudah bisa beroperasi.
"Pokoknya sekarang juga sudah ada beberapa blok yang sekarang kita upayakan. Saya harap bisa menambah 30-31 ribu barel per hari, namun saya lupa mana-mananya, yang penting segera diupayakan supaya bisa mulai produksi," tutur Evita.
Sebelumnya Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyoroti peningkatan produksi minyak Indonesia saat ini sangat lambat, bahkan bisa dikatakan stagnan. Menteri ESDM diminta cepat meningkatkan produksi minyak dalam negeri.
"Mbok ya jangan lelet meningkatkan produksi (minyak), BP Migas, ESDM, day by day, jangan ada hambatan," tegas Hatta kemarin.
(nrs/hen)











































