Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto kepada detikFinance, Rabu (9/3/2011).
"Sangat mungkin ini bukan hanya karena kendala distribusi. Tapi juga bisa karena penyalahgunaan, pasar gelap, ataupun penyelundupan BBM ke industri atau luar negeri," tegas Pri Agung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Disparitas harga BBM subsidi kita dengan BBM industri atau BBM di negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura sangat jauh," imbuh Pri Agung.
Karena itu, Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas) diminta segera menginvestigasi aksi penyelundupan tersebut dan memperkuat pengawasannya.
"Kuota BBM subsidi selama Januari-Februari sudah melebihi 7-8%, mestinya tidak ada itu kelangkaan. Hal-hal semacam ini yang membuat kita tidak mendukung opsi pembatasan BBM, pengawasannya di lapangan sangat meragukan," tegas Pri Agung.
(dnl/hen)











































