Produksi Migas RI Berkurang 12% per Tahun

Produksi Migas RI Berkurang 12% per Tahun

Ramdhania El Hida - detikFinance
Sabtu, 19 Mar 2011 16:36 WIB
Produksi Migas RI Berkurang 12% per Tahun
Jakarta -

Indonesia alami penurunan produksi minyak sekitar 12 persen per tahun. Meskipun produksi migas Indonesia meningkat, tetapi untuk produksi minyak bumi mengalami penurunan.

"Hasil migas kita kan terdiri dari minyak, gas, kondensat. Nah, gas dan kondensat meningkat, tapi minyak turun. Minyak tidak mencapai apa yang kita targetkan, tapi ya Indonesia tetap masih untung," ujarnya dalam seminar dengan wartawan, di Ancol, Jakarta, Sabtu (19/3/2011).

Berdasarkan data Kementerian keuangan pada Desember 2009, produksi minyak mencapai 1.109,4 ribu barel per hari, sedangkan pada Desember 2010, hanya 952,9 ribu barel per hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan demikian, Agus Marto memperkirakan produksi minyak negara tidak akan mencapai target dalam APBN 2011, yaitu sebesar 970 ribu bph. Dia memperkirakan produksi minyak berada pada kisaran 950-970 ribu bph.

"Ya, kisarannya 950-970," ujarnya.

Agus Marto menambahkan tidak tercapainya lifting minyak ini disebabkan juga belum berjalannya sumur baru di Cepu dan adanya azas cabotage yang melarang adanya kapal berbendera asing, termasuk alat drill untuk mengambil minyak di laut.

"Tapi sekarang ESDM, DPR sudah memberikan kesempatan untuk direvisi supaya drilling equipment bisa dipakai. Yang namaya alat-alat drilling bisa dimasukkan kategori khusus dan bukan kapal. Jangan sampai kontraktor minyak enggak mau kerja dan turun terus liftingnya," jelasnya.

Agus Marto menyimulasikan dengan produksi minyak hanya 950 ribu bph, akan terdapat penambahan anggaran sebesar Rp 3,6 triliun.

"Setiap lifting turun 5 ribu bph maka akan ada dampak pada APBN sebesar Rp 900 miliar, jadi kalau kurang 20 ribu bph dibanding APBN maka akan ada tambahan defisit Rp 3,6 triliun," hitungnya.

Sedangkan setiap kenaikan harga ICP sebesar USD 1 per barel maka memberikan dampak terhadap APBN sebesar Rp 800 miliar dan setiap rupiah menguat sebesar Rp 100 per dolar akan memberikan dampak kepada APBN sebesar Rp 1,7 triliun.

"Kenaikan harga minyak masih berdampak positif kepada Net Impact Migas, tetapi oleh adanya tambahan belanja Pendidikan menyebabkan kenaikan defisit APBN. Simulasi risiko penurunan lifting minyak dan penguatan nilai tukar rupiah serta kenaikan harga ICP hingga rata-rata USD 90-100 tidak terlalu berdampak signifikan pada keniakan defisit APBN 2011," pungkasnya.

(nia/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads