"Masih ada golongan menengah dan atas yang dapat subsidi listrik," ujar Agus Marto dalam diskusi dengan wartawan di Ancol, Jakarta, Sabtu (19/3/2011).
Agus menyebutkan pada tahun 2010 subsidi listrik sebesar Rp 57,6 triliun dirasakan 57,1 persen golongan rendah, sedangkan 8,8 persen dirasakan golongan menengah, dan 33,8 persen dari subsidi justru dirasakan golongan atas.
"Pengguna utama subsidi listrik tahun 2010, golongan rendah sebesar 57,7 persen dan golongan atas sebesar 33,8 persen," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus mencontohkan banyak pembangunan untuk masyarakat yang bisa dilakukan jika subsidi dikurangi.
"Misalnya subsidi BBM sebesar Rp 95 triliun, itu sama dengan 95 ribu sekolah dasar, SMP, SMA yang harusnya bisa dibangun jadi gak bisa dibangun karena dibakar kendaraan. Itu sama dengan 95 juta siswa yang harusnya bisa sekolah jadi gak bisa bersekolah. Jadi harus berpikir opportunity cost. Subsidi BBM itu kan abis terbakar. Jadi bisa beli kapal ASDP, bus umum, lapangan udara," jelasnya.
Agus yakin jika subsidi dikurangi maka anggaran APBN bisa dirasakan lebih optimal untuk orang miskin.
"Anggaran untuk the poor dalam APBN senesar Rp 108 triliun, tapi hanya karena subsidi seperti ini kita sudah keluarkan Rp 95,9 triliun. Kalau kelola dengan baik maka untuk the poor bisa untuk yang lain, bisa perbaiki infrastruktur," tandasnya.
(nia/dru)










































