Negara Kaspia Jadi Calon 'Raja Minyak' Baru

Negara Kaspia Jadi Calon 'Raja Minyak' Baru

- detikFinance
Senin, 21 Mar 2011 11:24 WIB
Negara Kaspia Jadi Calon Raja Minyak Baru
Jakarta - Produksi minyak dan gas (migas) negara-negara di wilayah laut Kaspia bakal meningkat dua kali lipat dalam 25 tahun mendatang. Wilayah ini bakal menjadi penyangga keamanan energi di dunia.

Menurut Wakil Direktur Eksekutif International Energy Agency Richard Jones, produksi gas di Azerbaijan akan naik 17 miliar meter kubik (bcm) per tahun menjadi 50 bcm pada 2035. Dari jumlah itu, sebanyak 35 bcm akan diekspor.

"Masuknya gas dari Azerbaijan akan membantu negara-negara Eropa memenuhi kebutuhan impor mereka, khususnya untuk pembangkit listrik. Pada 2008, negara-negara Uni Eropa membutuhkan 320 bcm gas impor, dan diproyeksikan angka tersebut meningkat menjadi lebih dari 500 bcm pada 2035 (mengalami lonjakan 58%)," tutur Richard seperti dikutip dari situs Kementerian ESDM, Senin (21/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Azerbaijan diramalkan bakal jadi pengekspor gas terbesar Kaspia ke Eropa, sementara Turkmenistan jadi sumber utama ekspor Kaspia ke China.

Di sebelah timur Laut Kaspia, tepatnya di Asia Tengah, pembukaan jaringan pipa gas baru antara Turkmenistan dan China pada 2009 telah menandai perubahan besar sektor gas di wilayah itu.

Sebelum 2009, rute bagi para eksportir gas di Asia Tengah harus melalui Rusia. Namun, dengan 7.000 km pipa gas baru ke China, China memiliki pengaruh kuat pada tren Kaspia pada produksi gas dan perdagangan, baik sebagai sumber investasi maupun sebagai pasar ekspor utama.

Sementara untuk minyak, Kazakhstan juga bakal memainkan peran penting dalam meningkatkan keamanan energi global. Produksi minyak di Kazakhstan dipredikis bakal mencapai 4 juta barel per hari pada pertengahan 2020.

Jika proyeksi ini menjadi kenyataan, hal ini akan memperkuat peran penting Kazakhstan untuk keamanan minyak dunia.

Adanya pasokan minyak Kazakhstan untuk pasar Eropa dan Asia akan mengurangi kebutuhan negara-negara tersebut untuk mengimpor minyak dari Timur Tengah dengan tanker melalui jalur rawan, seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka.

(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads