"Kebutuhan energi di Indonesia saat ini cukup kritis. Pembangunan PLTN di Indonesia diharapkan bisa mengatasi kemungkinan adanya krisis energi," kata Ketua jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Sihana kepada wartawan di Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (22/3/2011).
Menurut dia uranium sebagai bahan bakar energi nuklir belum dieksplorasi secara maksimal. Uranium diperkirakan akan habis pada masa 30 tahun mendatang. Oleh karena itu teknologi nuklir akan beralih ke teknologi nuklir lain yang lebih canggih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan pendirian PLTN di Indonesia memerlukan beberapa syarat yang matang. Belajar dari pengalaman reaktor nuklir di Jepang, Indonesia harus memikirkan berbagai antisipasi desain sistem keselamatan yang belum terpikirkan di negara lain.
Menurut dia, Jepang memang telah memprediksi skala gempa yang mungkin terjadi di sana. Namun tidak mengenai antisipasi tsunami. "Kita perlu memikirkan hal-hal macam itu baik terkait tata ruang, sistem pendingin dan lain-lain yang lebih baik," katanya.
Hal senada juga diungkapkan peneliti nuklir UGM, Dr. Andang Widiharto kapasitas listrik yang tersedia di Indonesia saat ini sebesar 30 ribu Mega Watt (MW). Jumlah tersebut baru bisa memenuhi kebutuhan 60 persen wilayah di Indonesia.
Di 2025 diperkirakan kebutuhan listrik mencapai 100 ribu MW. Kekurangan pasokan listrik mencapai 70 ribu MW. Bila menggunakan geothermal, makro hidropower, atau tenaga surya dan biomass pasokan tetap masih kurang. Kemungkinan yang bisa memenuhi adalah energi nuklir.
Menurut dia, dari energi geotermal, pasokan listrik yang dihasilkan adalah sekitar 27 ribu MW. Sedangkan potensi sebesar itu tidak mungkin bisa dikembangkan seluruhnya atau hanya dapat terealisasi sekitar 9 ribu MW. Untuk Makro Hidropower, potensi yang dimiliki adalah 75 mega watt dan realisasinya hanya 10 ribu MW.
"Total dari gabungan kedua energi itu praktis hanya menghasilkan 19 ribu mega watt atau masih ada kekurangan pasokan sekitar 50 ribu mega watt," katanya
Bila menggunakan energi surya, lanjutnya, untuk kapasitas satu giga watt diperlukan area seluas 20 kilometer persegi. Satu panel surya berukuran satu meter persegi hanya menghasilkan 50 watt listrik. Untuk biomass 1.000 MW memerlukan sekitar 300 kilometer persegi area.
"PLTN, satu unit akan menghasilkan 1000 mega watt listrik, hanya memerlukan dua kilometer persegi area. Pasokan nuklir di tingkat dunia sendiri saat ini melebihi stok. Saat ini ada bank uranium. Ini kesempatan yang baik untuk dikembangkan dan mencukupi kebutuhan energi. Namun harus didukung dengan persyaratan yang matang," pungkas Andang.
(bgs/dnl)











































