Padahal kata dia, mal, dan gedung-gedung perkantoran di Jakarta memiliki potensi penghematan energi yang besar. Sebuah gedung hemat energi bisa menurunkan konsumsi energi sampai 20-30% atau setara dengan sebuah pembangkit listrik baru yang cukup untuk menerangi ribuan rumah di Jakarta.
"Ini potensi yang sangat besar. Konsumsi energi tersebut berkontribusi terhadap tingkat emisi di Indonesia, berkontribusi terhadap menurunnya cadangan energi di Indonesia dan dampak-dampak lingkungan lain," katanya seperti dikutip detikFinance dari situs Kementerian ESDM, Kamis (24/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan lebih cepat dan murah jika melakukan penghematan dibandingkan membangun pembangkit baru," katanya.
Luluk menjelaskan, berbagai upaya dilakukan baik melalui langkah aktif dan pasif desain. Aktif desain dilakukan dengan memanfaatkan berbagai teknologi inverter dan lain-lain.
Sedangkan pasif desain menekankan pada desain bangunan yang mendukung penggunaan energi yang lebih rendah seperti meminimalkan masuknya sinar matahari sehingga dapat mengurangi penggunaan beban AC, tetapi yang lebih utama adalah membentuk perilaku hemat energi melalui kampanye hemat energi.
"Makanya kami sosialisasikan, telah dibentuk Tim Social Engineering (TSE), yang akan menyampaikan nilai-nilai hemat energi dan cinta EBT, TSE ini akan didik dari ahli-ahli dari luar,"paparnya.
Direktur Konservasi Energi Maryam Ayuni menambahkan ada delapan gedung yang sedang diajukan untuk mendapatkan sertifikasi sebagai pilot project green building di antaranya Pusat Perbelanjaan Grand Indonesia, Jerman Centre, Surya TOTO, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas (Lemigas), Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan Kedutaan Austria.
Ada tujuh item yang harus diperhatikan seperti efisiensi, penggunaan air, pengolahan limbah, material yang digunakan untuk membangun gedung.
"Perhitungan berdasarkan rating, kalau sesuai bisa mendapatkan sertifikat," ucap Maryam.
(hen/dnl)











































