Satu Mal Jakarta Sedot Listrik Setara Kota 'Pinggiran' di Jawa

Satu Mal Jakarta Sedot Listrik Setara Kota 'Pinggiran' di Jawa

- detikFinance
Kamis, 24 Mar 2011 11:46 WIB
Jakarta - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Luluk Sumiarso mengatakan konsumsi energi untuk bangunan di Indonesia masih sangat tinggi. Ia mencontohkan penggunaan listrik di sebuah mal besar di Jakarta diperkirakan lebih tinggi dari penggunaan listrik di beberapa kota di pelosok pulau Jawa.

Padahal kata dia, mal, dan gedung-gedung perkantoran di Jakarta memiliki potensi penghematan energi yang besar. Sebuah gedung hemat energi bisa menurunkan konsumsi energi sampai 20-30% atau setara dengan sebuah pembangkit listrik baru yang cukup untuk menerangi ribuan rumah di Jakarta.

"Ini potensi yang sangat besar. Konsumsi energi tersebut berkontribusi terhadap tingkat emisi di Indonesia, berkontribusi terhadap menurunnya cadangan energi di Indonesia dan dampak-dampak lingkungan lain," katanya seperti dikutip detikFinance dari situs Kementerian ESDM, Kamis (24/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu untuk sektor industri, ada kurang lebih 650-an pelanggan yang termasuk dalam daftar pelanggan dengan konsumsi 6.000 Tonne Equivalent (TOE) atau lebih, untuk industri ini memiliki potensi penghematan energi 2.000 Megawatt (MW) per tahun.

"Akan lebih cepat dan murah jika melakukan penghematan dibandingkan membangun pembangkit baru," katanya.

Luluk menjelaskan, berbagai upaya dilakukan baik melalui langkah aktif dan pasif desain. Aktif desain dilakukan dengan memanfaatkan berbagai teknologi inverter dan lain-lain.

Sedangkan pasif desain menekankan pada desain bangunan yang mendukung penggunaan energi yang lebih rendah seperti meminimalkan masuknya sinar matahari sehingga dapat mengurangi penggunaan beban AC, tetapi yang lebih utama adalah membentuk perilaku hemat energi melalui kampanye hemat energi.

"Makanya kami sosialisasikan, telah dibentuk Tim Social Engineering (TSE), yang akan menyampaikan nilai-nilai hemat energi dan cinta EBT, TSE ini akan didik dari ahli-ahli dari luar,"paparnya.

Direktur Konservasi Energi Maryam Ayuni menambahkan ada delapan gedung yang sedang diajukan untuk mendapatkan sertifikasi sebagai pilot project green building di antaranya Pusat Perbelanjaan Grand Indonesia, Jerman Centre, Surya TOTO, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas (Lemigas), Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan Kedutaan Austria.

Ada tujuh item yang harus diperhatikan seperti efisiensi, penggunaan air, pengolahan limbah, material yang digunakan untuk membangun gedung.

"Perhitungan berdasarkan rating, kalau sesuai bisa mendapatkan sertifikat," ucap Maryam.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads