"Dengan adanya kerjasama ini, diperkirakan potensi penghematan biaya bahan bakar yang bisa dilakukan PLN adalah sebesar Rp 874 miliar per tahun," ujar Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Jakarta, Kamis (24/3/2011).
Potensi penghematan tersebut didapat dari adanya pengurangan ketergantungan pada BBM HSD (High Speed Diesel) bagi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang akan digantikan dengan gas. Sehingga dapat mengurangi Biaya Pokok Produksi (BPP).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Dahlan, sistem Transportasi dan Receiving Terminal LNG yang dikembangkan PLN dan Pertamina itu adalah dengan membentuk suatu perusahaan patungan (Joint Venture) yang akan memenuhi gas sebagai pengganti energi primer pembangkit listrik yang memakai BBM.
"Kerjasama ini meliputi penyediaan (mendapatkan) gas LNG, kemudian pengirimannya hingga di lokasi penerimaan LNG dan mengubah LNG menjadi gas untuk disalurkan ke pembangkit," ucapnya.
Untuk pengembangan protek Terminal LNG tersebut kedua perusahaan ini akan melakukan kajian yang terkait aspek tenis, hukum, komersial/finansial seta membuat studi kelayakan (Pre-feasibility Study) yang terkait dengan seluruh rangkaian pengembangan mini receiving terminal LNG.
"Selain itu, kebutuhan gas untuk keperluan pembangkit-pembangkit listrik PLN dapat lebih muda terpenuhi sehingga ketersediaan pasokan listrik menjadi lebih efisien," tambah Dahlan.
Sebagai informasi, sistem transportasi dan receiving terminal LNG adalah cara pengiriman gas bentuk cair (LNG) dan diterima di terminal untuk kemudian diubah menjadi gas, sehingga dapat digunakan sebagai energi primer pembangkit listrik.
Sistem transportasi dan receiving terminal LNG adalah cara pengiriman gas bentuk cair (LNG) dan diterima diterminal untuk kemudian diubah menjadi gas sehingga dapatΒ digunakan sebagai energi primer pembangkit listrik.
(nrs/qom)











































