Anggota Komisi VII DPR M. Romahurmuziy mengatakan, Presiden SBY masih menimbang risiko politik yang timbul jika kebijakan kenaikan harga BBM diambil.
"Saya melihat ketidaktegasan ini karena perbedaan antara presiden dengan para pembantunya (menteri) dalam menimbang risiko yang timbul. Presiden lebih banyak menimbang risiko politik. Sedangkan pembantu presiden lebih menimbang risiko ekonomi. Namun kebimbangan presiden juga terjadi karena kegagalan pembantu presiden di sektor terkait dalam menyajikan formulasi kebijakan yang bersifat medium risk," tutur pria yang akrab disapa Rommi dalam siaran persnya kepada detikFinance, Jakarta (28/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor-faktor tersebut adalah:
- Sudah 5 bulan berturut-turut atau 3 bulan berturut-turut dalam tahun fiskal 2011 ICP naik melebihi 10% asumsi.
- Prognosa harga ICP tidak akan menurun dalam waktu dekat.
- Inflasi berada di titik terendah.
- Negara sekawasan semua sudah merespon dengan menaikkan harga BBM.
"Risikonya jelas, subsidi membengkak namun tetap salah sasaran," imbuh Rommi.
(nrs/dnl)











































