Harga Minyak Diprediksi Bertahan di US$ 105 Hingga Akhir 2011

Harga Minyak Diprediksi Bertahan di US$ 105 Hingga Akhir 2011

- detikFinance
Selasa, 29 Mar 2011 12:07 WIB
Harga Minyak Diprediksi Bertahan di US$ 105 Hingga Akhir 2011
Jakarta - Kenaikan harga minyak dunia dinilai masih akan terus terjadi sepanjang tahun 2011. Harga minyak light sweet diprediksi bertahan di level US$ 105 per barel hingga akhir 2011.

Ekonom Standard Chartered Bank Eric Sugandi mengungkapkan geopolitik di Libya menjadi penyebab tingginya harga minyak, sehingga asumsi awal di US$ 95 per barel menjadi meningkat.

"Libya merupakan negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika Utara walaupun produksinya tidak begitu besar," ujar Eric dalam bincang-bincang Standard Chartered Bank perihal perekonomian Indonesia terkait krisis Timur Tengah dan Jepang di Crown Plaza Hotel, Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (29/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Eric, minyak di Nymex pada pekan kemarin tercatat sebesar US$ 102 per barel. Secara keseluruhan di Q1-2011 rata-rata minyak akan berada di US$ 95 per barel.

"Kemudian akan meningkat menjadi US$ 107 per barel di Q2-2011 dan menjadi US$ 110 per barel di Q3-2011 hingga kemudian kembali turun menjadi US$ 105 per barel di Q4-2011," paparnya.

Kenaikan harga minyak dikarenakan banyaknya spekulator yang khawatir krisis Libya akan meluas ke negara Iran dan Saudi Arabia. Menurutnya, produksi minyak Libya dimana mencapai 1,3 juta barel per hari akan terganggu.

"Sehingga pasokan minyak dialihkan ke Arab Saudi dan Iran. Keadaan politik Libya tidak dapat terprediksi saat ini. Makanya di pasar komoditas global para spekulan pada memborong minyak," jelasnya.

Lebih jauh Eric mengatakan dengan kenaikan harga minyak di posisi US$ 105 per barel, pengaruh ke Indonesia akan terjadi dari sisi inflasi dan defisit APBN 2011.

"Jika minyak di US$ 105 per barel maka inflasi akan mencapai 7.0% di akhir tahun dan defisit APBN bisa mencapai 1,5%," tuturnya.

Namun Ia menambahkan, selama pemerintah belum mampu meningkatkan target lifting minyak APBN tercapai, maka penguatan rupiah masih akan membantu menyelamatkan defisit APBN tersebut.

"Tetapi untuk pertumbuhan ekonomi masih akan berada di 6,5% atau tetap optimis mencapai angka tersebut. Dimana ditopang dari konsumsi rumah tangga, walaupun inflasi tinggi konsumsi rumah tangga khususnya pangan masih tetap tinggi disamping penopang lain yakni Foreign Direct Invesment (FDI)," tambahnya.

Pada perdagangan Selasa di pasar Singapura, harga minyak melemah tipis seiring menguatnya dolar AS. Minyak light sweet pengiriman Mei turun 42 sen menjadi US$ 103,56 per barel, sementara minyak Brent turun 50 sen menjadi US$ 114,30 per barel.

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads