Demikian disampaikan oleh Direktur Operasi Indonesia Timur PT PLN Vickner Sinaga, ketika ditemui di kantor pusat PLN, Jakarta (1/4/2011).
"Antara 2009 dan 2010, rasio listrik di Indonesia Timur baru mencapai 50%. Tapi 2010 sudah 56%. Biasanya ini naik 2%-2% tiap tahun," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nusa Tenggara Timur (NTT) baru saja mengentaskan pada tahun lalu dari 24% menjadi 31%," tukas Vickner.
Ia menambahkan angka 31% ini harus meningkat menjadi 60% rasionya atau bahkan 71%. Ia bertekad di tahun 2011 ini semua propinsi yang ada di Indonesia Timur bisa naik sampai 60% rasio listriknya.
"Masih ada 10 propinsi lagi yang harus dinaikkan dan yang baru melewati 60% baru 5 propinsi, 10 propinsi tersebut akan migrasi ke 60%, memang agak berat. Kita menyambung untuk mencapai 60% dengan waktu biasa membutuhkan waktu 65 tahun, kita akan kejar untuk 1 tahun," jelas Vickner.
Untuk mengejar target agar tidak ada rasio elektrifikasi di seluruh Indonesia masih di bawah 60%, PLN berusaha gunakan strategi efisiensi listrik untuk Indonesia Timur agar di setiap provinsi wilayah tersebut dapat mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun ini.
"Kami melakukannya selama ini dengan menjual losses dan tenaga matahari. Kita juga memakai lampu Super Hemat Energi dimana itu ada penurunan daya dari 20 watt cukup dengan 3 watt, serta pemakaian lampu sorot 400 watt menjadi 40 watt. Kita contoh itu untuk losses di sektor Asam-Asam," kata Vickner.
(hen/dnl)











































