"Waktu itu subsidi untuk minyak tanah bisa sampai Rp 50 triliun per tahun, ini sangat besar, hanya untuk dibakar? Tentu penting untuk masak,"' canda JK dalam seminar mengenai pelaksanaan konversi mitan-LPG 3 Kg yang diselenggarakan di Universitas Indonesia Fakultas Ekonomi, Depok, (Jawa Barat), Selasa (5/4/2011).
"Namun, dulu saya lihat apa energi yang terdekat bisa menggantikan minyak tanah, dan kita lihat ke elpiji. Saya lihat dengan step-step akademis dan saya coba dirumah sendiri dan ternyata saya dapat hasil bahwa elpiji lebih efisien ketimbang minyak tanah," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya coba buktikan, waktu itu dilihat di Universitas mana yang punya fakultas mineral, dan saya minta tes di sana, lalu ternyata benar bahwa 1 liter minyak tanah setara dengan 0,4 Kg elpiji," terang pria yang kini menjabat sebagai Ketua PMI ini.
"Maka, artinya, 1 liter mitan waktu itu harga pokoknya setara dengan setengah liter setara LPG yang waktu itu harga mitan masih pada Rp 4.300. Jika dibagi dua, jadi hanya membutuhkan Rp 2000. Jadi, efisiensi jauh lebih besar daripada memakai minyak tanah," tambahnya.
Setelah melihat kesuksesan uji coba tersebut, JK langsung memanggil pihak Pertamina untuk segera menjalankan konversi minyak tanah ke elpiji tersebut.
"Dulu juga dicoba dengan menggunakan tabung 3 Kgelpiji, karena kita tidak mau merubah masyarakat terlalu progresif, kita ingin lihat berapa kebutuhan masyarakat untuk saat itu mengkonsumsi Minyak Tanah. Kalau mereka dulu beli Mitan sekitar 5 liter dengan harga Rp 15000 kita coba cari gantinya yang setara," terangnya.
Terkait banyaknya kasus meledaknya tabung-tabung gas 3 Kg tersebut, JK menilai hal itu terjadi akibat ulah kejahatan para pengoplos.
"Itu, semua energi pasti ada resikonya. Namun, untuk masalah elpiji itu terjadi karena ulah pengoplosan. Dulu disebabkan oleh valve yang sebetulnya digunakan untuk tabung gas 12 Kg tapi dipaksakan untuk tabung gas 3 Kg. Lama-lama mengakibatjan lemahnya per pada valve tersebut, lalu dijual lagi oleh pengoplos," tuturnya.
"Itu kan bukan ulah ketidaksengajaan. Melainkan itu kejahatan dari pengoplos. Padahal penggunaan elpiji ini sebetulnya aman dan efisien," tambah JK.
(nrs/qom)











































