Pernyataan ini dilontarkan JK usai menghadiri seminar soal konversi elpiji di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, Selasa (5/4/2011).
"Kebijakan pengaturan atau pembatasan tak efektif, mau diputar kayak apapun ujung-ujungnya naikkan saja harganya," jelas JK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya mending naikkan harga saja, karena harga minyak sekarang US$ 120 per barel anggaran pemerintah bisa bobol lagi, dan defisit lagi lebih besar," tegas JK.
Dia menceritakan, dulu saat harga minyak dunia melambung, harga premium pernah menyentuh Rp 6.000 per liter. Namun akhirnya turun karena mau Pemilu. Jadi jelas kenaikan harga jadi kebijakan paling tepat.
"Saat ini biaya subsidi lebih besar dari pembangunan. Makanya masih banyak jalan rusak karena dananya lebih banyak untuk subsidi," tukas pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PMI.
(dnl/qom)











































