"Sepuluh pembangkit ini merupakan proyek 10.000 megawatt (MW) tahap I," kata Direktur Operasi Indonesia Timur PLN, Vickner Sinaga kepada sejumlah wartawan, Jakarta (11/4/2011).
Dirinya menyampaikan, kesepuluh pembangkit tersebut diantaranya:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- PLTU Kalsel-Asam asam (130 MW)
- PLTU Sulses-Barru (100MW)
- PLTU 2 Sulut-Amurang (50MW)
- PLTU NTB-Lobok (25MW)
- PLTU Sultra-Kendari (20MW)
- PLTU 1 NTT-Ende (14MW)
- PLTU 2 Papua-Jayapura (10MW)
- PLTU Maluku Utara-Tidore (7MW)
- PLTU Ulumbu-NTT (5MW)
- PLTU Tersebar di Sulawesi dan Papua (15 MW)
"Nanti bulan Juli, akan masuk PLTA Asam-Asam," singkat Vickner.
Untuk masalah bahan bakar yang akan digunakan. Selain menggunakan bahan bakar batubara, Vickner juga berharap dapat mengandalkan pembangkit listrik panas bumi (PLTP).
Menurutnya, potensi listrik panas bumi di wilayah Indonesia Timur cukup besar. Dirinya juga sempat mengatakan berencana untuk menjadikan Flores (Nusa Tenggara Timur) sebagai daerah andalan penghasil listrik panas bumi.
"Beban Flores itu sekitar 30 MW, kami sangat berharap panas bumi bisa jadi andalan saat base load dan peak (beban puncak)," ujar Vickner.
Vickner mencatat, saat ini PLTP yang sudah operasi di wilayah Indonesia Timur adalah sebanyal 61,8 MW. Yakni PLTP Lahendong sebesar 60 MW dan Mataloko 1,8 MW.
Ia menyampaikan, tahun ini pun ada tambahan daya terhadap kelistrikan Indonesia Timur dari panas bumi sebesar 25 MW.
"Tahun ini akan beroperasi lagi dari Lahendong 2 MW dan Ulumbu sebesar 5 MW. Tahun depan nanti juga mau masuk panas bumi dari Tulehu 10 MW," ungkapnya.
(nrs/dnl)











































