Minyak Tinggi, RI Ngotot Naikkan Harga Gas Tangguh ke China

Minyak Tinggi, RI Ngotot Naikkan Harga Gas Tangguh ke China

- detikFinance
Selasa, 12 Apr 2011 12:30 WIB
Minyak Tinggi, RI Ngotot Naikkan Harga Gas Tangguh ke China
Jakarta - Pemerintah menyatakan bakal melakukan renegosiasi dengan pihak pembeli dari China yakni CNOOC sehingga harga jual bisa dinaikkan di tengah tingginya harga energi seperti minyak saat ini.

Demikian disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa ketika ditemui di acara Indonesia International Infrastructure 2011, JCC Senayan, Jakarta, Selasa (12/4/2011).

"Sampai sekarang belum ada kemajuan dan nanti saya lihat, review terakhirnya seperti apa," jelas Hatta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hatta menyampaikan sebelumnya sudah ada perbaikan harga dari harga batas bawahnya US$ 10 dan batas atasnya US$ 24 per barel, kini berubah menjadi US$ 10 untuk batas bawah dan US$ 30 per barel.

"Tapi itu kan masih jauh. Harus ada satu hal yang keadilannya ada juga, fairness. Karena harga minyak sekarang juga sudah tinggi," tanggapnya.

"Sekarang tinggal bagaimana kebijakan yang lama itu tetap spirit menghormati kebijakan yang baru. Asas keadilan juga harus ada," ucap Hatta menambahkan.

Saat ditanya apakah akan dibentuk kembali tim renegosiasi untuk membahas harga jual LNG Tangguh dengan pemerintah China, Hatta menanggapi untuk melihat terlebih dahulu hasil renegosiasi dari tim sebelumnya seperti apa. "Saya tidak tahu, akan kita lihat hasil tim yang lalu bagaimana, karena tim kan sudah berakhir," ucap Hatta.

Untuk diketahui, harga ekspor LNG Tangguh ke China saat ini adalah US$ 3,34 per mmbtu. Banyak yang menilai seharusnya harga tersebut segera dirubah menuju harga yang lebih tinggi. Maka itu banyak yang mengusulkan pembentukan renegosiasi kesepakatan harga LNG Tangguh tersebut.

Namun mengingat batas atas terkait harga minyak sejauh ini masih pada kisaran US$ 30 per barel untuk kesepakatan LNG Tangguh tersebut, maka harga LNG yang dijual tidak akan terkerek jauh naik, meskipun saat ini harga minyak sedang tinggi-tingginya.

Sebelumnya, di 2008 dibentuk tim renegosiasi harga LNG Tangguh yang diketuai oleh Mantan Menko Perekonomian saat itu, Sri Mulyani. Namun sampai saat ini perkembangan renegosiasi harga tersebut seolah belum menemui titik terang.

(nrs/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads