"Ya itulah, yang saya sangat kecewakan ini dalam 10 tahun tidak tercapai. tidak pernah capai target, itu turun terus," keluh Hatta saat ditemui di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (14/4/2011).
Menurut Hatta, banyak sekali penyebab tak tercapainya produksi minyak nasional. Masalah mulai dari kecepatan pengambilan keputusan, hingga masalah peralatan yang sudah tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Hatta menyatakan perlunya Instruksi Presiden (Inpres) untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri dan pemberian insentif.
"Saya mengusulkan ada satu Inpres khusus bagaimana supaya bagaimana caranya kita kelola, tingkatkan produksi minyak kita ini sehingga betul-betul lapangan-lapangan tua yang ada di Pertamina, yang ada di KPS (Kontraktor Production Sharing) itu bisa kita kelola dengan baik, dengan teknologi, tentu harus ada keekonomian, yang bikin orang tertarik. harus ada satu insentif," tegasnya.
Meskipun gagal pada lifting minyak, Hatta mengaku tetap bangga dengan sumber daya alam di bidang energi Indonesia yang jika ditotalkan bersama gas dan batubara bisa setara 6 juta kiloliter.
"Begini kita itu kalau bicara energi setara mintak itu kita punya 6 juta. Batubara, gas, dan minyak kita kalau disatukan itu mencapai 6 juta. Kita masih cukup bagus, ada orang yang punya cuma 4 juta minyak doang, tapi minyaknya itu emang menurun terus, ini yang harus kita kerja keras," ujarnya.
Dengan kemampuan produksi minyak yang rendah, Hatta belum yakin Indonesia bisa masuk kembali ke dalam negara OPEC dalam waktu dekat. Dia hanya yakin Indonesia dapat mencapai produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari di 2014.
"Pokoknya kita menargetkan sebelum 2014 kita harus 1 juta bph (untuk lifting). Persoalan OPEC itu bukan karena kita sekarang net importir tapi karena kita menganggap suspend (tahan) saja dulu, tapi kita juga impor, bukan cuma ekspor," tandasnya.
(nia/dnl)











































