Lifting Minyak Meleset, Penerimaan Migas Melorot Rp 5 triliun

Lifting Minyak Meleset, Penerimaan Migas Melorot Rp 5 triliun

- detikFinance
Minggu, 17 Apr 2011 17:10 WIB
Jakarta - Pemerintah mengasumsikan jika lifting minyak hanya mencapai 950 ribu barel per hari (bph) maka anggaran dalam APBN 2011 bakal turun hingga Rp 5 triliun. Pasalnya terjadi penurunan penerimaan migas di APBN 2011.

"Penurunan lifting minyak hingga menjadi ke 950 ribu bph akan berdampak penurunan penerimaan Migas Rp 4-5 triliun," ujar Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kementerian Keuangan, Askolani dalam diskusi dengan wartawan di Hotel Jayakarta, Minggu (17/4/2011).

Dalam APBN 2011, target lifting ditentukan sebesar 970 ribu bph. Namun, pemerintah pesimistis target tersebut tidak akan tercapai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Askolani menyatakan saat ini pemerintah tetap memperhatikan pergerakan kemampuan BP Migas mencapai lifting tersebut serta fluktuasi harga minyak dan nilai tukar rupiah untuk menetapkan perubahan target dalam APBN-P 2011.

"Tapi kita tidak tahu lifting akan diasumsikan berapa dalam APBN-P," jelasnya.

Hanya saja, Askolani menyatakan target lifting akan ditahan pada kisaran 950-970 ribu bph.

"Kalau pemerintah mengharapkan 950-970 tapi itu kan yang disampakan ESDM masih tetap terbuka, apa yang disampaikan waktu titik mana yang diajukan pemerintah dalam APBNP itu yang menjadi titik mana yang dipilih pemerintah itu yang akan dcapai pemerintah antara 950-970, jadi ada risiko bawah dan atas,  tapi itu kan harus dilihat lagi tidak bisa buru-buru lagi," ujarnya.

Askolani meyebutkan realisasi lifting rata-rata Januari hingga Maret 2011 mencapai 892,9 ribu bph, sedangkan periode Desember 2010 hingga Maret 2011 sebesar 896,9 ribu bph. Realisasi lifting Desember 2010-Marer 2011 tersebut lebih rendah 63,5 ribu bph (6,6%) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 960,4 ribu bph.

Kendala yang dihadapi dalam peningkatan lifting Migas tahun 2011, lanjut Askolani, adalah adanya penurunan alamiah (natural declining sebesar Âą 12% per tahun), terbatasnya investasi di sektor migas, dampak asas cabotage, dan belum optimalnya sumur-sumur baru.


(nia/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads