Di sejumlah toko di Kota Nunukan misalnya, penjualan elpiji Shell dan Petronas terlihat lebih marak. Keamanan dan kemudahan mendapatkan barang menjadi alasan masyarakat setempat untuk memilih elpiji asal negeri jiran itu.
"Saya malah nggak lihat ada elpiji Pertamina dijual," kata Sabaruddin, warga Nunukan, ketika berbincang dengan detikFinance, Senin (18/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Elpiji 14 kilogram juga terasa padat. Pernah ada tetangga yang bawa Elpiji Pertamina dari Tarakan ukuran 12 kilogram, tapi terasa tidak padat," ujar Sabaruddin.
Menurutnya, toko-toko yang menjual elpiji Shell dan Petronas Nunukan, juga beralasan lebih mudah mendapatkan elpiji dari 2 produsen asing itu dari Malaysia, ketimbang dari Kota Tarakan, yang harus ditempuh 3 jam perjalanan dengan menggunakan speedboat.
"Dari Tawau (Malaysia), dekat ke sini sekitar 1,5 jam naik speed boat. Kalau dari Tarakan jauh," sebut Sabaruddin.
"Seharusnya Pertamina jual elpiji di sini. Ini 'kan di Kaltim yang katanya kaya minyak dan gas. Belum lagi liat elpiji Pertamina ada yang meledak di daerah-daerah lain. Kita juga jadi takut pakai Pertamina," jelasnya.
Pemandangan serupa, juga terlihat di Kabupaten Malinau, yang juga berada di wilayah utara Kaltim. Berdasarkan pantauan detikFinance, di sejumlah toko di Jl Panembahan Malinau, juga terlihat elpiji milik Shell yang diproduksi di Malaysia.
(qom/qom)











































