Alexander, warga Malinau Kota mengatakan, ketiadaan SPBU di Kabupaten Malinau sudah berlangsung sejak lama. Selama ini, warga membeli premium eceran yang dijual agen besar Bahan Bakar Minyak (BBM yang dijual seharga Rp 5.500 perliter.
"Itu kalau kita beli di agen. Kalau beli di eceran, harganya Rp 6.000 sampai Rp 7.000," kata Alexander, dalam perbincangan dengan detikFinance di Malinau Kota, Senin (18/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamatan detikFinance, di Malinau memang tidak ada satupun SPBU. Di salah satu ruas jalan, terdapat SPBU yang berdiri namun disebut-sebut tidak kunjung dioperasikan.
"Percuma SPBU berdiri, sudah 2 tahun ini tidak jelas kapan beroperasinya," sebut Alexander.
"Pemerintah itu bisa membayangkan, di sini saja premium mahal. Apalagi di Kecamatan Long Ampung, perbatasan dengan Serawak Malaysia. Di situ, premium dijual Rp 22.000 perliter. Silakan cek sendiri kalau tidak percaya," jelas Alexander.
Ketiadaan SPBU juga membuat sopir angkutan kota di Malinau menjerit. Batas tarif maksimal Rp 5.000 angkutan kota yang diterapkan pemerintah kabupaten, membuat rugi sopir angkutan kota.
"Kita dilarang naikkan tarif. Tapi harga premium mahal. Bagaimana ini?" ujar salah seorang sopir angkutan kota, Anton, kepada detikFinance.
"Masak Pertamina sebesar itu tidak bisa bangun dan operasikan satu SPBU di Malinau?" sebut Anton heran.
(dnl/dnl)











































