Hal ini disampaikan oleh Mantan Menteri Lingkungan Hidup Sony Keraf dalam acara diskusi 'Perlukah PLTN Dibangun Di Indonesia Untuk Memenuhi Kebutuhan Energi Nasional' yang dilaksanakan di Gedung Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (19/4/2011).
"Saya tidak setuju untuk pembangunan PLTN pada tahun 2030, saya berpikir lebih cocok dibangun pada tahun 2100," kata Sony yang pernah menjabat sebagai Menteri LH pada kabinet Persatuan 1999-2001 tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika kita sudah memiliki good governance yang baik, maka kita bisa membangun PLTN tersebut. Karena wacana PLTN ini mencakup segala aspek bukan saja dilihat dari segi teknis dan moral. Sama halnya dengan safety culture kita, saya akui kita masih belum cukup memiliki safety culture yang baik. Contohnya kita lihat saja misalnya untuk Kilang di Cilacap sana, sudah sampai lima kali ini terjadi kebakaran di sana, ini kan tidak masuk akal, safety culture kita masih kurang," jelas Sony.
Meski begitu, Sony mengatakan, Indonesia tidak boleh meninggalkan dan melupakan teknologi nuklir.
"Saya tidak menolak, justru kita harus terus belajar pengembangan teknologi tersebut. Namun penggunaannya kapan itu yang harus perlu dipertimbangkan dan dikaji secara mendalam dan mencakup segala aspek," jelasnya.
Sebelum membangun PLTN ini, Sony mengatakan, Indonesia bisa belajar banyak dari kejadian di Jepang pasca gempa bumi dan tsunami.
"Belum lagi tingkat kerawanan sosial politik yang tinggi dengan pengamanan yang sangat rentan. Terorisme misalnya, siapa yang duga misalnya PLTN dilempar dengan bom buku? Walaupun berlebihan tapi itu harus dipertimbangkan juga kan?" celetuknya.
Tapi sekali lagi, Sony menegaskan supaya Indonesia perlu terus belajar untuk menguasai teknologi nuklir ini, karena itu bisa dimanfaatkan untuk hal yang lain.
"Saya tidak menolak penguasaan teknologinya, saya hanya menolak pemanfaatannya dalam waktu dekat. Ini (PLTN) bisa menjadi alternatif paling akhir untuk tahun 2100. Dengan syarat terus lakukan penelitian dan penguasaan teknologi. Nuklir sendiri, untuk tujuan kemanusiaan harus diberi tempat yang luas," tegasnya.
(nrs/dnl)











































