RI Baru Pantas Bangun PLTN di 2100

RI Baru Pantas Bangun PLTN di 2100

- detikFinance
Selasa, 19 Apr 2011 15:07 WIB
RI Baru Pantas Bangun PLTN di 2100
Jakarta - Indonesia baru pantas memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dalam energi baru bisa digunakan di 2100. Karena di tahun tersebut, Indonesia dinilai sudah memiliki tata kelola dan standar keselamatan yang layak.

Hal ini disampaikan oleh Mantan Menteri Lingkungan Hidup Sony Keraf dalam acara diskusi 'Perlukah PLTN Dibangun Di Indonesia Untuk Memenuhi Kebutuhan Energi Nasional' yang dilaksanakan di Gedung Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (19/4/2011).

"Saya tidak setuju untuk pembangunan PLTN pada tahun 2030, saya berpikir lebih cocok dibangun pada tahun 2100," kata Sony yang pernah menjabat sebagai Menteri LH pada kabinet Persatuan 1999-2001 tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan, Indonesia belum bisa membangun PLTN dalam waktu dekat karena belum siap dari segi teknis, ekonomi, lingkungan, psikis sosial, dan moral.

"Jika kita sudah memiliki good governance yang baik, maka kita bisa membangun PLTN tersebut. Karena wacana PLTN ini mencakup segala aspek bukan saja dilihat dari segi teknis dan moral. Sama halnya dengan safety culture kita, saya akui kita masih belum cukup memiliki safety culture yang baik. Contohnya kita lihat saja misalnya untuk Kilang di Cilacap sana, sudah sampai lima kali ini terjadi kebakaran di sana, ini kan tidak masuk akal, safety culture kita masih kurang," jelas Sony.

Meski begitu, Sony mengatakan, Indonesia tidak boleh meninggalkan dan melupakan teknologi nuklir.

"Saya tidak menolak, justru kita harus terus belajar pengembangan teknologi tersebut. Namun penggunaannya kapan itu yang harus perlu dipertimbangkan dan dikaji secara mendalam dan mencakup segala aspek," jelasnya.

Sebelum membangun PLTN ini, Sony mengatakan, Indonesia bisa belajar banyak dari kejadian di Jepang pasca gempa bumi dan tsunami.

"Belum lagi tingkat kerawanan sosial politik yang tinggi dengan pengamanan yang sangat rentan. Terorisme misalnya, siapa yang duga misalnya PLTN dilempar dengan bom buku? Walaupun berlebihan tapi itu harus dipertimbangkan juga kan?" celetuknya.

Tapi sekali lagi, Sony menegaskan supaya Indonesia perlu terus belajar untuk menguasai teknologi nuklir ini, karena itu bisa dimanfaatkan untuk hal yang lain.

"Saya tidak menolak penguasaan teknologinya, saya hanya menolak pemanfaatannya dalam waktu dekat. Ini (PLTN) bisa menjadi alternatif paling akhir untuk tahun 2100. Dengan syarat terus lakukan penelitian dan penguasaan teknologi. Nuklir sendiri, untuk tujuan kemanusiaan harus diberi tempat yang luas," tegasnya.

(nrs/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads