General Manager Patra Office Tower Rusyulianti mengatakan, selama ini hubungannya dengan BP Migas terbilang cukup baik. Apalagi BP Migas merupakan penyewa utama di gedung tersebut selama lebih dari 8 tahun dengan menyewa lebih dari 10 lantai untuk ruang kantor.
Dikatakannya, pindahnya BP Migas dari Patra Jasa juga baik-baik. Bahkan pengelola gedung sempat diundang untuk perpisahan dengan BP Migas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan, dulu memang gedung tersebut merupakan apartemen. Namun seiring waktu, pada 1996 pola bisnis, konsep desain, dan sarana penunjang diubah menjadi penyewaan ruang perkantoran.
"Kami sudah dua kali melakukan renovasi, namun khusus interior desain terhadap ruang kantor yang disewa sepenuhnya menjadi tanggung jawab penyewa," ujarnya.
Sedangkan untuk ruang rapat, Patra jasa mempunyai ruang Serba Guna yang dapat menampung 1.200-1.500 orang.
Hal ini disampaikannya menanggapi pernyataan Kepala BP Migas yang menyatakan Gedung Patra Jasa jadi kantor BP Migas dulu merupakan apartemen yang disulap menjadi kantor. Karena itu, BP Migas merasa gamang menerima investor-investor asing karena tak adanya ruang rapat yang memadai.
Rusyulianti mengatakan, pernyataan yang mengatakan panti pijat, mulai mengganggu usaha Patra Jasa.
"Ada calon penyewa yang saat ini menahan rencananya untuk pindah ke sini dan Tenant yang ada mulai terganggu dengan pemberitaan tersebut. Sekarang kita sedang mengejar 40% ruang kosong untuk segera terisi pasca kepindahan BP Migas," ujarnya.
BP Migas pindah dari Gedung Patra Jasa ke Wisma Mulia karena alasan mencari tempat yang representatif untuk mengadakan pertemuan dengan pihak-pihak investor asing. Pindahnya BP Migas dari Gedung Patra Jasa dilakukan pada secara bertahap dari awal Januari sampai akhir Maret 2011
Sebelumnya pemerhati kebijakan publik Agus Pambagio dalam kolomnya mengungkapkan, perpindahan kantor BP Migas dari Gedung Patra Jasa ke Wisma menelan biaya Rp 80 miliar. BP Migas mengontrak 15 lantai di Gedung Wisma Mulia untuk 5 tahun ke depan.
Biaya kontrak selama 5 tahun ini menjadi tanggungan negara, dan kabarnya kantor BP Migas yang baru jauh lebih mewah dari kantor menteri manapun. Ini berbanding terbalik dengan produksi minyak kita yang masih melempem dan tak kunjung mencapai target 970 ribu barel per hari di tahun ini.
(dnl/qom)











































