"Kita sekarang memproduksi 960.000 barel, kebutuhan kita sampai 1,3 juta barel per hari, dan kita harus impor 340 ribu barel per hari. Karena itu kan kita sekarang keluar dari OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak), sekarang kita jadi OPIC (Net Oil Importer/Pengimpor Minyak)," kata Guru Besar ITB Rudi Rubiandini dalam diskusi Memacu Lifting Melalui Pengelolaan Sumur Tua, di hotel Nikko, Jakarta, Rabu (20/4/2011).
Menurutnya 'kebiasaan’ Indonesia tidak lazim karena ebagai negara pengimpor minyak, Indonesia masih saja mensubsidi BBM. Sementara biaya subsidi BBM yang harus dikeluarkan sampai triliunan rupiah setiap tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudi yang juga menjabat sebagai pejabat BP Migas (Badan Pelaksana Minyak dan Gas) mengatakan krisis energi Jepang yang diakibatkan rusaknya PLTN Fukushima pasca gempa dan tsunami berpotensi merugikan Indonesia. Tambahan impor pasokan energi berupa gas dan minyak Jepang, akan mengerek harga, sementara Indonesia pelanggan pengimpor minyak.
"Ketika Fukushima sedang bermasalah, maka di sana (untuk menutupi kebutuhan energinya) akan memilih gas dan minyak. Jadi siap-sap saja supplier-supplier minyak akan disedot oleh Jepang. Bagi Indonesia ini adalah sebuah kerugian," kata
Selain itu, jika Jepang membutuhkan substitusi energi dalam jumlah banyak, akan ada kemungkinan dari beberapa negara pengekspor akan fokus memasok minyak dan gas ke Jepang. Sehingga terjadi pembelokkan yang seharusnya ada yang diekspor ke Indonesia namun beralih ke Jepang.
"Kalau harga naik dan kita masih bisa beli, it’s oke. Yang jadi masalah adalah jumlah minyak kan terbatas di dunia. Negara Arab juga bisa bilang ‘saya biasanya suplai ke Cilacap. Sekarang saya belokkan ke Jepang’. Lantas kalau seperti itu Indonesia mau beli nggak ada barangnya, mau gimana kita? Itu kan bukan hal yang tidak mungkin, bisa saja terjadi. Jadi kita harus hati-hati," katanya.
Terkait gas, pemerintah berencana memberi bantuan memasok LNG ke Jepang. Tapi masih ragu-ragu dengan alasan stok Indonesia juga terbatas.
"Kita tidak kaya-kaya amat. Kita harus tahu bahwa kita harus hati-hati menggunakan minyak dan gas. Jangan jor-joran. Minyak kita hanya 0,3% di dunia, dan gas hanya 1,7% di dunia. Jangan dipakai untuk macet-macet di jalan, atau untuk main sore-sore, kebut-kebutan, mentang-mentang harga murah karena disubsidi," tuturnya.
(nrs/hen)











































