"Pengerjaan konstruksi butuh 13 bulan, lalu dilakukan tes produksi 2 bulan, kemungkinan bisa komersial pertengahan November 2012 itu, masih musim giling," kata Project Manager Bioethanol PTPN X Nur Iswanto di acara penandatanganan implementation dokument antara Jepang dengan Indonesia di kementerian perindustrian, Jakarta, Kamis (21/4/2011).
Ia mengatakan hasil produksi dari bioethanol tak wajib diekspor ke Jepang namun bisa digunakan sebagai bahan bakar minyak. Dalam jangka panjang penggunaan bioethanol akan dimanfaatkan untuk industri hilir seperti kosmetika, farmasi dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui Jepang melalui New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) memberikan hibah berupa peralatan mesin pengolah molases (tetes gula) menjadi bioethanol senilai US$ 16 juta. Proyek ini sudah dirintis sejak 2 tahun lalu dengan konsep pengembangan pabrik gula terintegrasi dengan bioethanol.
Proyek ini dilaksanakan melalui proyek pembangunan pabrik bioethanol oleh PTPN X melalui kerjasama Government to Government, totalnya menelan dana hingga US$ 25,5 juta. Sebanyak US$ 9,5 juta dibiayai dari dana sendiri PTPN X.
Proyek bantuan ini sebagai pilot project terhadap pengembangan pengolahan molases yang merupakan hasil sampingan dari pabrik gula.
Pabrik milik PTPN X ini akan menghasilkan 330.000 kiloliter Bioethanol per tahun dengan memanfaatkan 105-115.000 ton molases di pabrik gula Gempolkrep Mojokerto Jawa Timur.
Perwakilan NEDO Eiji Ohira menambahkan melalui kerjasama ini pihak NEDO memberikan bantuan peralatan dan melakukan pemasangan di pabrik. Melalui Tsukishima Kikai, Sapporo Engineering dan Marubeni Corporation.
(hen/qom)











































