Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan, secara berkala timnya melakukan survey berkala ke lapangan-lapangan migas untuk memantau kondisi produksi lapangan tersebut.
"Ada tim yang datang survei ke KKKS (Kontaktor Kontrak Kerjasama). Apakah dia sudah melakukan semua dengan standar teknik atau belum. Kita sudah melakukan karena kadang-kadang ada pipa yang harusnya diganti belum diganti bisa sebabkan unplanned shutdown," tuturnya ketika ditemui usai pelatihan petugas SPBU di Hotel Oasis, Jakarta, Senin (25/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan evita, pihaknya belum merencanakan untuk revisi produksi minyak di 2011 dari rencana awal 970 ribu barel per hari (bph).
"Kami sedang melakukan diskusi bagaimana sebaiknya untuk target produksi. Kami ingin tercapai 970 ribu bph. Tapi kami juga ingin realistis," tukas Evita.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan banyaknya masalah yang dihadapi di sektor migas membuat produksi minyak Indonesia mentok di 950 ribu bph.
Turunnya produksi minyak Indonesia diakibatkan banyak faktor di samping dari adanya alasan selama ini yang terkait natural declining (penurunan alamiah), peralatan tua, atau kendala cuaca, serta unplanned shutdown.
Karena masalah tersebut, target pencapaian produksi minyak saat ini baru mencapai sekitar 911 ribu bph. Angka tersebut masih jauh dari harapan yang diinginkan.
(dnl/hen)










































