Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Reforminer Institute Pri Agung kepada detikFinance, Senin (25/4/2011).
"Imbauan dan iklan TV untuk memakai pertamax tidak akan efektif. Ini masalah rasionalitas ekonomi kok. Jika ada barang atau komoditas yang lebih murah dengan fungsi yang sama atau bisa menggantikan dan selama belum ada aturan yang melarang untuk menggunakan barang itu tetap saja orang akan lebih mengkonsumsinya," tutur Pri Agung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi cara ini (iklan di TV) cenderung buang-buang biaya menurut saya. Tidak terukur apa yang mau dicapai," tegas Pri Agung.
Dia mengatakan, pemerintah tidak bisa menyalahkan masyarakat jika nantinya tetap lebih memilih memakai premium dibandingkan pertamax.
Sebelumnya Pri Agung pernah mengatakan, cara yang paling baik untuk menekan anggaran subsidi BBM adalah dengan menaikkan harga premium sebesar Rp 500-Rp 1.000 per liter.
Menurutnya, pemerintah terlalu banyak opsi mengenai pembatasan penggunaan BBM bersubsidi bagi masyarakat. Banyaknya opsi tersebut dinilai hanya menimbulkan ketidakpastian bagi masyarakat.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Djaelani Sutomo mengatakan akan terus membujuk masyarakat mampu untuk membeli pertamax. Banyak cara yang akan dilakukan, sampai-sampai membuat iklan imbauan melalui televisi.
(dnl/hen)











































