Salah satu yang 'mengganjal' dan membuatnya mundur adalah adanya dugaan praktek persekongkolan tender proyek gas Gendalo-Gehem atau Indonesia Deepwater Development (IDD) di Selat Makassar bernilai jutaan dolar AS yang melibatkan Chevron.
"Itu antara lainnya saja," ucapnya singkat kepada detikFinance, Senin malam (25/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya nggak merasa pantas jadi pejabat," pungkasnya.
Sumber detikFinance menyebutkan, Iwan selaku pimpro Indonesia Deepwater Development (IDD) mengajukan surat pengunduran diri pada 11 maret 2011. Sejak 12 April 2011 Iwan sudah tidak lagi bertanggung jawab pada proyek tersebut.
"Orangnya tegas, sehingga begitu ada permainan tender di pekerjaan yang dimainkan oleh Chevron dan Kepala BP Migas di proyek Indonesia Deepwater Development (IDD), dia nggak bisa terima," kata sumber tersebut.
Sumber itu juga mengatakan dengan adanya dugaan persekongkolan tender oleh Chevron maka biaya proyek menjadi tinggi sekali sehingga berpotensi merugikan negara. Hal ini terkait seluruh pengeluaran di industri migas akan masuk cost recovery yang diklaim ke keuangan negara oleh kontraktor migas.
"Selain itu alasan ia mundur juga karena sarannya untuk membatalkan proses tender IDD tidak digubris oleh Kepala BP Migas," tegas sumber itu.
Dikatakan sumber itu, sebelum proyek dikerjakan harus ada pengerjaan Front End Engineering Design (FEED), yaitu studi lengkap mengenai suatu proyek yang dikerjakan oleh sekelompok konsultan.
Setelah FEED selesai maka dokumen tender untuk kontraktor baru dapat dikeluarkan. Semua persyaratan teknis tender harus memenuhi hasil FEED. Menurut sumber itu biaya normal pengerjaan FEED hanya maksimal sekitar US$ 5 juta, tetapi FEED untuk IDD membengkak mencapai US$ 25 juta.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga ternyata sudah sejak lama mencium aroma tak sedap dari tender ini. KPPU akan memanggil PT Chevron Pacific Indonesia terkait dugaan persekongkolan tender proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) atau proyek Gendalo-Gehem.
Seperti diketahui Chevron menjadi pihak yang mengerjakan proyek eksplorasi gas laut dalam di Selat Makassar. Perusahaan asal AS ini melakukan tender pembuatan Front-End Engineering and Design pengembangan laut dalam. Dugaan persekongkolan ini melibatkan 3 perusahaan peserta tender yaitu terkait tender pengerjaan pembuatan fasilitas produksi apung, pipa jaringan dan terminal penerima gas di daratan.
(hen/qom)










































