Berdasarkan data BP Migas yang dikutip detikFinance, Kamis (28/4/2011), produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan. Hingga akhir Maret 2011 saja, produksi minyak kita hanya menyentuh 907.644 bph. Masih di bawah target 970.000 bph.
Produksi minyak Indonesia terus menurun dari rata-rata 948 ribu bph di 2009, menjadi 944 ribu bph di 2010, dan sampai Maret 2011 turun lagi menjadi 907 bph.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diantaranya adalah soal pembebasan tanah. Ini yang menghambat kontraktor migas memulai usaha pengeboran hingga produksi. Belum lagi soal perizinan dari pemda setempat.
"Masalah-masalah seperti ini bisa berdampak pada terganggunya iklim investasi migas. Ini harus diselesaikan," jelas Gde, Rabu (27/4/2011).
Selain itu, Blok Cepu yang diharapkan bisa menjadi andalan produksi minyak dalam negeri, ternyata juga belum bisa maksimal. Padahal jika Blok Cepu bisa maksimal, itu akan mendorong tercapainya target 1 juta bph.
"Fasilitas di Cepu masih sementara belum bisa full. Harusnya Cepu itu 165 ribu bph, tapi yang beroperasi hanya sekitar 30 ribu bph," jelas Gde.
Belum lagi lapangan migas di Duri dan Minas Sumatera Bagian Selatan yang ditangani Chevron. Kedua lapangan tersebut kini produksinya jauh menurun.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah pesimistis target produksi minyak 970 ribu barel
per hari (bph) bakal tercapai tahun ini.
Dari data BP Migas disebutkan, produksi gas Indonesia malah terus meningkat. Datanya sebagai berikut:
- 2009 sebesar 7,96 juta kaki kubik per hari
- 2010 8,8 juta kaki kubik per hari
- 2011 hingga Maret menjadi 8,514 juta kaki kubik per hari
Seperti diketahui, Indonesia saat ini menjadi net importir minyak karena produksi minyak yang 907 ribu bph, sementara konsumsi minyak dalam negeri sekitar 1,3 juta bph. Sisanya harus diimpor.
Jadi selain sulit mencapai produksi 1 juta bph, Indonesia juga masih harus bekerja keras untuk bisa kembali duduk di meja OPEC.
(dnl/qom)











































