Banyak Maling dan Preman, Bisnis Migas RI Makin Tak Aman

Banyak Maling dan Preman, Bisnis Migas RI Makin Tak Aman

- detikFinance
Kamis, 28 Apr 2011 08:50 WIB
Banyak Maling dan Preman, Bisnis Migas RI Makin Tak Aman
Jakarta - Kegiatan produksi migas di Indonesia makin tak aman. Gangguan keamanan terhadap fasilitas-fasilitas produksi Indonesia masih marak mulai dari pencurian hingga premanisme.

Dari data BP Migas yang dikutip detikFinance, Kamis (28/4/2011), jumlah gangguan keamanan di sektor migas pada 2010 lalu terus meningkat. Jumlah gangguan keamanan tersebut tak main-main yakni mencapai 1.153 gangguan di 2010.

Rinciannya adalah 486 merupakan gangguan operasi migas dan sisanya 667 merupakan pencurian alat-alat migas. Ini semua dialami oleh para kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) migas di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gangguan keamanan di 2010 itu berarti meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding 2009 yang sebanyak 471 gangguan. Wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mencatat jumlah gangguan keamanan cukup banyak. Terdapat pencurian alat-alat migas hingga 354 kejadian di Sumbagsel selama 2010.

Sisanya adalah 41 gangguan keamanan berupa vandalisme atau pengrusakan. Lalu ada 27 gangguan berupa premanisme. Dan 33 gangguan berupa demo massa. Di Sumbagsel, gangguan keamanan yang sering terjadi adalah pencurian minyak dan blokade area eksplorasi migas.

Kontraktor migas yang sering mengalami gangguan ini berdasarkan data tersebut adalah Chevron Pacific Indonesia di Riau. (37%), Pertamina EP Sumbagsel (28%), ConocoPhillips Indonesia di Sumbagsel (16%), Medco E&P Sumbagsel (10%), dan Vico Indonesia Kaltim (9%).

Ini jadi pekerjaan bagi pemerintah khususnya BP Migas untuk menjamin kegiatan produksi migas di Indonesia aman. Mengingat produksi minyak Indonesia yang terus turun dari rata-rata 948 ribu bph di 2009, menjadi 944 ribu bph di 2010, dan sampai Maret 2011 turun lagi menjadi 907 bph.

(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads