Pengusaha SPBU Pilih BBM Premium Naik Ketimbang 'Dihabisi'

Pengusaha SPBU Pilih BBM Premium Naik Ketimbang 'Dihabisi'

- detikFinance
Jumat, 29 Apr 2011 16:11 WIB
Pengusaha SPBU Pilih BBM Premium Naik Ketimbang Dihabisi
Jakarta - Kalangan pengusaha SPBU menilai masyarakat belum siap jika BBM Premium dihapus. Hal ini terkait rencana pemerintah yang berencana 'menghabisi' BBM Premium dari sisi subsidi hingga menghilangkan produknya.

Demikian disampaikan oleh Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Eri Purnomo Hadi ketika dihubungi detikFinance, Jakarta (29/4/2011).

"Dari sisi infrastruktur dan keteknisan itu tidak hubungannya jika mau dihapus atau gimana (BBM Premium). Namun kan dilihat dari sisi di luar keteknisan, dan keekonomian masyarakat kita kan belum mampu untuk menghadapi hal itu," kata Eri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eri menjelaskan, pihak SPBU sendiri tidak terlalu mempermasalahkan jika Premium nantinya dihilangkan di pasaran. Menurutnya tetap diperlukan untuk sarana distribusi dan sarana penjualan. Dikatakannya yang harus dipertimbangkan adalah perlu dilihat konteks kemasyarakatannya, apakah masyarakat mampu dihadapkan ke situasi seperti itu.

"Konteksnya sebetulnya bukan masalah produknya dihilangkan atau apa, tapi lebih ke harga Premium kita saja yang masih terlalu murah. Harusnya kan dinaikkan saja. Selain itu, mau jenisnya Premium atau apa, yang oktannya (RON) 80 di Amerika juga masih tetap dijual kok," timpalnya.

Ia berpendapat masyarakat terkadang juga belum melihat mana BBM yang memiliki rating oktan yang baik, sehingga ketika mereka sampai ke SPBU mereka cenderung melihat dari sisi harganya.

"Mereka kan datang ke SPBU, jarang yang masih tahu mana oktan yang 80, 90 atau 95. Mereka cuma datang membeli harga yang Rp 4500 per liter, mau dikasih nama Premium, Premitax, Premiun, sama saja kan?," tukas Eri.

Eri juga menilai, bahwa pernyataan menteri keuangan terkait gagasan untuk menghapus Premium di pasaran masih terlalu 'bersayap' sehingga pemerintah masih terkesan enggan untuk mengatakan ingin menaikkan harga BBM yang kerap membobolkan anggaran negara tiap tahunnya.

"Selama tatarannya masih liquid (cair), mau judulnya apapun, SPBU bisa tetap jualan, mau Premium dihapus ya hapus saja. Berarti kan nanti yang ada cuma yang Rp 8.000-an (Pertamax Cs). Nah, sanggup nggak masyarakat langsung loncat dari Rp 4500 per liter (Premium) ke yang Rp 8500 per liter (Pertamax)?" tanya Eri.

(nrs/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads