Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya, Jalan DR Soetomo, Jakarta, Senin (2/5/2011).
"Nggak sederhana, harga premium akan menjadi harga pertamax, kecuali kalau premium oktan lebih kecil. Tapi bagaimana pun itu sama saja menaikkan harga premium, bisa sekitar 1,6% tambahannya untuk inflasi," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan ada dampaknya kepada inflasi tapi dampaknya beda-beda. Selain itu ada multiplyer efeknya," ujarnya.
Namun, lanjut Rusman, yang perlu diperhatikan adalah pergeseran konsumen pertamax ke premium, yang sampai akhir April ini terlihat sekitar 3%.
"Bukan saja bergeser, banyak sekali konsumen yang dari dulu tidak pantas tapi nggak bergeser ke pertamax, pergeseran itu sekitar 3%. Makanya wartawan foto di SPBU, berapa banyak yang pakai premium padahal mobilnya mewah," tandasnya.
Seperti diketahui, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan pemerintah akan menghapus BBM jenis premium dan juga tidak akan memberikan subsidi untuk Pertamax. Kapan waktunya, masih sangat tergantung dengan koordinasi kementerian energi sumber daya mineral (ESDM) dan DPR.
Ia menegaskan, ada dua prinsip terkait pembatasan BBM bersubisi. Pertama, premium secara bertahap yakni dihapus dari sisi subsidi maupun produknya di pasaran. Kedua, tidak akan memberikan subsidi untuk BBM jenis Pertamax yang selama ini sudah dijual sesuai tingkat keekonomiannya.
"Kalau saya dua prinsip yang saya dijaga memang secara bertahap dan pasti yaitu premium itu harus hapus, keberadaan premium bertahap tapi pasti harusnya dihapus, hapus artinya tidak diteruskan, pertama kali subsidinya, kemudian produknya, kan oktannya juga kurang tinggi," katanya.
Pihak Pertamina juga menyatakan siap untuk menghapus peredaran bensin premium. Jika ini sudah menjadi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
(nia/dnl)











































