Demikian disampiakan oleh Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Kegiatan Minyak dan Gas (BPH Migas), Adi Subagyo saat dihubungi wartawan, Senin (2/5/2011).
"Itu dilematis, memang sulit ya, sulit untuk kita menganjurkan pengguna BBM beralih ke pertamax," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harga naik (pertamax Cs) pasti bisa menurun konsumsinya. Kita berusaha menganjurkan tapi kan kemampuan masyarakat terbatas, makanya kurangi mobil pribadi kalau tidak perlu sekali jangan pakai mobil pribadi," kata Adi.
Β
Dia mengharapkan dengan adanya kenaikan harga pertamax yang per 1 April 2011 kemarin sudah menyentuh Rp 9.050 per liter tidak akan terlalu besar dampak penurunan konsumsinya.
"Untuk bulan April ini kami belum terima laporan, mungkin besok. Sedangkan Mei baru dua hari. Mudah-mudahan besok kita sudah bisa ketahui berapa volume penjualan BBM April," tutur Adi.
Dihubungi terpisah, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Eri Purnomo hadi berujar, kenaikan harga pertamax tersebut otomatis memicu kepindahan konsumen ke premium
"Kenaikan (harga) itu akan lebih memicu pengguna pertamax untuk mencari BBM lain yang lebih murah, ya salah satunya ke BBM subsidi (premium)," kata Eri.
Eri menilai perbedaan harga menjadi suatu hal yang sensitif. Ada perbedaan Rp 100 bisa menimbulkan peralihan, apalagi jika premium dan pertamax memiliki disparitas harga yang kini selisihnya sudah Rp 4.500 per liter.
"Premium juga lebih mudah didapat di semua SPBU," ujarnya, sehingga peralihan ke premium dari pertamax dapat terjadi.
"Data dari pertamina, penurunan pertamax sekitar 20%-25%, namun masih ada beberapa yang benar-benar setia dengan pertamax berapapun harganya," ungkap Eri menambahkan.
(nrs/dnl)











































