Wah! Ekspor Gas ke Singapura Sering Bocor

Wah! Ekspor Gas ke Singapura Sering Bocor

- detikFinance
Rabu, 04 Mei 2011 19:06 WIB
Wah! Ekspor Gas ke Singapura Sering Bocor
Jakarta - Pemerintah mencurigai alokasi ekspor gas ke Singapura kerap kali bocor alias diluar dari kontrak. Totalnya jika dihitung alokasi gas bocor ke Singapura mencapai 300 MMSCFD atau setara bisa memenuhi 30-an pabrik di dalam negeri.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady menyatakan Indonesia sejatinya memiliki sebuah alat untuk mengontrol setiap tetes aliran gas secara akurat. Alat tersebut bernama Automatic Metering Record (AMR) yang merupakan alat buatan anak bangsa dari Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Di ITB itu ada alatnya, Pak Hatta (Menko Perekonomian) bisa kontrol dari ruangannya. AMR, Automatic Metering Record, saya lagi membuat alat industri bikinan anak-anak ITB yang bisa mendeteksi setiap tetes gas yang ngalir kemana," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (4/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sayangnya, lanjut Edy, teknologi canggih itu tidak diperkenankan masuk oleh beberapa pihak sehingga masih menggunakan teknologi manual untuk memantau aliran gas.

"Tapi mereka nggak bisa masuk. Ada lah di salah satu anak perusahaan, dibilang alat ini tidak berstandar, karena dianggap menganggu. Makanya aku tidak tahu, bagaiamana masangnya. Punya anak bangsa nggak digunain, akhirnya manual semua," ungkap Edy.

Akibatnya, Edy mengaku total gas yang tercatat saat ini belum tentu dipastikan benar. Sebagai contoh, tambahnya, ekspor gas ke Singapura ada kelebihan dari kontrak.

"Ekspor gas ke Singapura, kan dia minta untuk menerangi pulaunya yang kecil itu, tapi ternayata selain dapat dari Sumatera ternyata dia dapat juga dari Natuna. Akibatnya kelebihan sekitar 300 MMSCFD," ungkapnya.

Untuk itu, Edy menyatakan pemerintah perlu memasang alat AMR tersebut sehingga penerimaan negara bisa diamankan.

"Kalau itu dipasang, penerimaan negara bisa diamankan, tidak bisa diculas (dicurangi) itu akan mencatat setiap detik per liter. BPS mau mantau, bisa tahu juga, ditumpuk dimana, ketahuan. Kayak NSW lah, tidak ada lagi yang bisa mencurangi. Artinya, ada yang ahli menghitung valuasi sumber daya alam," pungkasnya.

Sebagai gambaran betapa ironisnya dari kebocoran itu, Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) sebelumnya mencatat masih ada 326 pabrik dari 22 sektor industri di dalam negeri yang masih kekurangan gas.

Hingga kini para industri itu tidak mendapatkan kepastian pasokan gas untuk produksi maupun meningkatkan produksinya. Pabrik-pabrik itu tersebar di 15 provinsi, dengan kebutuhan 2.798-3.283 MMSCFD per tahun sampai 2015.


(nia/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads