Demikian disampaikan oleh Kepala BP Migas, R. Priyono ketika dikonfirmasi detikFinance melalui pesan singkat, Jakarta (5/5/2011).
"Ya CNOOC berniat mundur, saya sudah mencoba untuk menahannya sebelumnya," kata Priyono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada perintah dari Beijing, yang melihat kepemimpinan Ibu Karen (Dirut Pertamina) tidak bisa memegang komitmen dan tidak konsisten," jelasnya.
Priyono mengatakan dirinya khawatir hal ini dapat menimbulkan sinyal negatif untuk iklim investasi migas Indonesia.
"Saya sih concernnya, apa tidak menimbulkan sinyal negatif untuk Foreign Direct Investment (FDI) yang sedang didorong-dorong pemerintah," tukas Priyono.
Di tempat terpisah, Staf Ahli Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Kardaya Warnika mengatakan surat pengunduran diri CNOOC sudah dikirimkan kepada BP Migas sekitar 2-3 hari sebelum adanya penandatanganan kontrak WMO yang baru diteken hari ini.
"Kalau mau tahu alasannya kenapa CNOOC mundur itu ya tanya mereka saja," sanggahnya.
Seperti diketahui, pada hari ini di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) telah diteken penandatanganan Kontrak Migas untuk Wilayah Kerja West Madura Offshore (WMO). Kontrak baru tersebut kini dioperatori oleh Pertamina untuk 20 tahun ke depan dari 2011 sampai 2030.
Untuk partisipasi saham di blok tersebut, Pertamina memegang 80% sedangkan kontraktor pendampingnya, Kodeco adalah sebesar 20%. Seperti diketahui, sebelumnya komposisi pada WMO adalah Pertamina sebesar 50%, Kodeco 12,5%, CNOOC 12,5%, Sinergindo 12%, dan Purelink 12,5%. Operator sebelumnya adalah Kodeco.
Menjelang berakhirnya kontrak sebelumnya Pertamina meminta dan meyakinkan pemerintah untuk mendapatkan saham sebesar 100% di situ.
Namun sejauh ini belum ada respons yang jelas dari Pemerintah sampai akhirnya pada hari ini ditandatangani perpanjangan kontrak tersebut. Walaupun Pertamina hanya mendapatkan 80%.
(nrs/dnl)










































