Harga Minyak Jatuh Hampir 10%

Harga Minyak Jatuh Hampir 10%

- detikFinance
Jumat, 06 Mei 2011 06:51 WIB
Harga Minyak Jatuh Hampir 10%
New York - Harga minyak mentah dunia jatuh hampir 10% hingga kembali di bawah level US$ 100 per barel. Data perekonomian AS yang mengecewakan dan penguatan dolar langsung memicu spekulasi untuk menurunkan harga minyak.

Pada perdagangan Kamis (5/5/2011), minyak West Texas Intermediate light sweet pengiriman Juni merosot hingga 9,44 dolar atau 8,6% menjadi US$ 99,80 per barel. Ini adalah penurunan terbesar kedua dalam sejarah.

Minyak Brent pengiriman Juni juga merosot hingga 10,39 dolar menjadi US$ 110,80 per barel. Harga bahkan sempat menyentuh US$ 109,02 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini adalah kemerosotan terbesar harga minyak setelah sejak awal tahun terus melonjak tajam hingga menembus level US$ 100 per barel. Harga minyak light menembus rekor tertingginya di US$ 115 per barel pada 2 Mei menyusul kekisruhan geopolitik dan krisis nuklir di Jepang.

Harga minyak sempat mengalami tekanan jual besar ketika Lehman Brothers kolaps. Ketika itu, harga minyak sempat anjlok hingga 12 dolar hanya dalam sehari.

"Ini telah menjadi sebuah perdagangan besar. Setiap orang sudah berada pada posisi jangka panjang minyak. Namun ini kemudian menjadi perdagangan keluar yang paling cepat. Semua orang ingin keluar pada saat yang sama," ujar Rich Ilczyszyn, analis dari Lind-Waldock seperti dikutip dari AFP, Jumat (6/5/2011).

Penguatan dolar AS atas euro lebih dari 2 sen dipicu oleh pernyataan Gubernur Bank Sentral AS memicu anjloknya harga minyak tersebut. Sentimen negatif juga muncul setelah keluarnya data pengangguran AS yang memberikan sinyal proses pemulihan ekonomi sedang berlangsung.

Llaim baru untuk keuntungan asuransi pengangguran AS mencapai 474.000 pada pekan yang berakhir pada 30 April, yang menunjukkan kenaikan hingga 10% dibandingkan pekan sebelumnya.

"Siklus 'bull' jangka panjang masih ada, namun koreksi ini mungkin akan memiliki siklus dalam beberapa bulan, karena data ekonomi memicu koreksi ini dalam porsi yang lebih besar," ujar Sterling Smith, analis senior dari Country Hedging Inc seperti dikutip dari Reuters.


(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads