'Balas Dendam', CNOOC Putus Hubungan Pertamina di Angola

'Balas Dendam', CNOOC Putus Hubungan Pertamina di Angola

- detikFinance
Senin, 09 Mei 2011 15:23 WIB
Balas Dendam, CNOOC Putus Hubungan Pertamina di Angola
Jakarta - Perusahaan Minyak asal China yaitu CNOOC (China National Offshore Oil Corporation) masih menyimpan sakit hati ke Pertamina karena merasa ditelikung di kontrak pengelolaan blok migas West Madura Offshore.

Anggota Komisi VII DPR Satya E. Yudha mengatakan sangat menyayangkan mundurnya CNOOC Dari West Madura, sebab CNOOC juga memutus hubungan Pertamina di blok Angola.

"Pengunduran diri CNOOC juga sangat disayangkan karena dia juga memutus hubungan pertamina di Angola, ini menjadi ajang balas dendam, sehingga membuat ajang investasi tidak kondusif," tutur Satya di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin (9/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satya mengatakan pemerintah Indonesia harus membuat payung hukum soal perpanjangan kontrak migas di Indonesia sehingga tidak ada lagi perseteruan yang terjadi seperti di West Madura.

"Saat ini karena aturan-aturan yang tidak jelas sehingga CNOOC mundur," tegas Satya.

Sebelumnya Kepala BP Migas R Priyono mengatakan CNOOC mengundurkan diri dari partisipasi saham untuk pengelolaan blok migas West Madura Offshore. Mundurnya CNOOC diakibatkan karena merasa kecewa akibat sikap Pertamina yang tidak dapat memegang komitmennya pada pengelolaan di blok migas tersebut.

Priyono menyampaikan pengunduran diri ini atas perintah dari kantor pusat CNOOC di Beijing. CNOOC merasa Pertamina tidak bisa memegang komitmen dan tidak konsisten bagi CNOOC, maka itu perusahaan migas China tersebut mengundurkan diri dari keikutsertaan di West Madura.

Seperti diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) telah meneken penandatanganan Kontrak Migas untuk Wilayah Kerja West Madura Offshore (WMO). Kontrak baru tersebut kini dioperatori oleh Pertamina untuk 20 tahun ke depan dari 2011 sampai 2030.

Untuk partisipasi saham di blok tersebut, Pertamina memegang 80% sedangkan kontraktor pendampingnya, Kodeco adalah sebesar 20%. Seperti diketahui, sebelumnya komposisi pada WMO adalah Pertamina sebesar 50%, Kodeco 12,5%, CNOOC 12,5%, Sinergindo 12%, dan Purelink 12,5%. Operator sebelumnya adalah Kodeco.

Menjelang berakhirnya kontrak sebelumnya Pertamina meminta dan meyakinkan pemerintah untuk mendapatkan saham sebesar 100% di situ.

Namun sejauh ini belum ada respons yang jelas dari Pemerintah sampai akhirnya pada hari ini ditandatangani perpanjangan kontrak tersebut. Walaupun Pertamina hanya mendapatkan 80%.
(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads