Pengamat Perminyakan sekaligus Direktur Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengungkapkan anjuran pemerintah yang membujuk konsumen memakai pertamax sama sekali tidak berguna.
"Anjuran atau ajakan pakai Pertamax itu memang tidak manjur. Orang kan lebih rasional sekarang bukan merasa miskin dan tidak mampu atau merasa kaya tapi ketika ada yang lebih murah ya itu perlu karena menghemat," ujarnya ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Minggu (15/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Pri Agung, kalangan masyarakat yang menggunakan Pertamax saat ini merupakan orang-orang yang tidak sensitif terhadap kenaikan harga.
"Nah itu jumlahnya sedikit sekali apalagi mereka bisa saja memilih ke SPBU lain seperti Shell, Total dan Petronas," jelasnya.
"Selama tidak ada larangan ya orang bebas saja menggunakan bensin apapun. Lagi pula disparitas harga yang cukup jauh membuat orang berpikir dua kali ketika menggunakan Pertamax," imbuh Pri Agung.
Seperti diketahui, Per hari ini Minggu (15/5/2011) Pertamax naik Rp 200 menjadi Rp 9.250. Semakin tingginya harga Pertamax membuat bensin beroktan 92 tersebut sepi peminat. Uniknya justru kendaraan jenis sepeda motor yang lebih banyak mengisi Pertamax dibandingkan dengan mobil pirbadi.
"Sekarang kan per tanggal 15 naiknya. Pertamax mulai naik dari Rp 9.050 menjadi Rp 9.250 tadi pagi pukul 00.00," ujar seorang petugas SPBU di Jl Haji Miran, Pondok Kelapa Jakarta Timur ketika berbincang dengan detikFinance.
Ia mengungkapkan ketika Pertamax menyentuh angka Rp 9.000 ternyata sudah sepi peminat dari pengguna mobil. "Apalagi naik Rp 9.250, waktu Rp 9.050 saja Pertamax sudah tidak laku. Justru lebih banyak motor yang mengisi. Dalam sehari saja hanya beberapa mobil bisa dihitung," jelasnya kembali.
(dru/dru)











































