Ketiga pembangkit tersebut adalah PLTSampah, PLTBiomass, dan PLTBayu (angin). Ini dilakukan untuk bisa menekan penggunaan BBM.
Demikian disampaikan Nasri Sebayang, selaku Direktur Perencanaan dan Teknologi PT PLN dalam penyampaiannya yang dipaparkan dalam rapat dengan Komisi VII DPR yang dilakukan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pemaparan Nasri, berikut ini adalah program yang dikembangkan PLN untuk pengembangan PLTSampah:
- PLTSampah Bantargebang (14 MW) sudah terkontrak dengan harga Rp 820/Kwh (tahun 1 sampai dengan 7) dan Rp 750/Kwh (tahun 8 sampai dengan 15). Rencana akan dikembangkan sampai dengan kapasitas 26 MW
- PLTSampah Denpasar Bali (2 MW) sudah beroperasi dan konstruksi (9 MW)
- Rencana pengembangan PLTSampah di beberapa kota besar seperti Surabaya (10 MW) dan Bandung (10 MW)
- Potensi PLTBiomass menggunakan cangkang sawit, bagas, sekam padi, dan feed stock lainnya potensi yang cukup besar
- PLTBiomass menggunakan cangkang sawit di Belitung (7 MW) sudah terkontrak Rp 917/Kwh (tahun 1 sampai dengan 5) dan Rp 641,25/Kwh (tahun 6 sampai dengan 15) dan beberapa lokasi tahap konstruksi di Sumut (10 MW), Bangka (5 MW), dan Gorontalo (12 MW) dalam tahap desain/pengadaan
- Peran Swasta lebih didorong dalam pengembangan PLTBiomass melalui skema Liswas atau kontrak 'Excess Power'
- Program pengembangan PLTBayu terbatas karena potensi kecepatan angin relatif rendah (3 sd 5 m/dt, kecuali pada beberapa daerah >5 m/dt)
- Perkembangan teknologi PLTBayu untuk kecepatan rendah yang terus berkembang sedang dilakukan uji coba 'pilot project' di NTT
- Beberapa kontrak Liswas (Listrik Swasta) sedang difinalkan, antara lain di Sukabumi (10 MW) dengan harga negosiasi Rp 870/Kwh (tahun 1 sampai dengan 8) dan Rp 790/Kwh (tahun 9 sampai dengan 15)
(nrs/dnl)











































